Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Senin, 26 Juni 2017

LEBARAN OH LEBARAN (Tradisi ‘Ied Al-Fithri ala Indonesia)

      Indonesia adalah negara dengan muslim terbesar di seluruh dunia. Dan juga suku bangsa yang tersebar di seluruh penjuru negeri yang tak kalah banyak. Muslim Indonesia adalah satu diantara banyak negara dengan tradisi kegamaan paling beragam diantara negara-negara Muslim lainnya.
    Diantara sekian banyak tradisi atau budaya yang paling terkenal adalah budaya “ngumpul” pada hari Raya ‘Ied Al Fithri atau biasa disebut dengan Lebaran. Tidak jelas dari mana asal-usul kata ‘Lebaran’ ini. Sebagian menganggap kata Lebaran ini berasal dari Bahasa Jawa ‘lebar’ (usai), Bahasa Madura ‘lober’ (tuntas), Bahasa Sunda ‘lebar’ (melimpah ruah atau kadang juga disebut ‘boboran’), atau Bahasa Betawi ‘lebar’ (luas dan dalam).
      Darimanapun asal-usulnya, kata Lebaran mengandung makna tuntas, komplit, atau usai. Tuntas menjalankan puasa selama sebulan penuh sehingga diharapkan hati dan pikiran umat Islam semakin luas, legowo, dan melimpah ‘ruah’ dengan pintu maaf. Itulah makna terpenting dari Lebaran. Kata Lebaran ini bukan hanya dipakai untuk Idul Fitri atau Idul Adha (Lebaran Haji) saja tetapi juga untuk Imlek yaitu untuk menandai tahun baru dalam sistem kalendar Tionghoa, sehingga sebutannya menjadi “Lebaran Cina”.
Menurut budayawan Umar Khayam, tradisi lebaran seperti yang kini lazim dipraktikkan oleh kaum Muslim di Jawa dan lainnya ini bermula sejak abad ke-15, yakni sejak diperkenalkan oleh Sunan Bonang, satu orang diantara anggota Wali Songo yang berjasa dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa (silakan simak studi Ahmad Sunyoto, Atlas Wali Songo). Sedang menurut MA Salamun,  kata lebaran berasal dari tradisi Hindu yang berarti Selesai, Usai, atau Habis. Menandakan habisnya masa puasa.
Ada banyak hal menarik yang terjadi pada penghujung bulan Romadhon ini, dari mudik lebaran sampai pada pada tradisi-tradisi ‘unik’ dari berbagai daerah dari Merauke sampai Sabang. Ada tradisi Meugang di Aceh (memasak dan makan bersama), bedulag di Bangka (Masak dan makan bersama), Perang Topat di Lombok (Saling lempar ketupat), Festival Tambilotohe di Gorontalo (memasang lampu yang dibuat dari getah pohon damar di tiga malam terakhir menjelang Lebaran) dan banyak lagi yang lainnya.
Ada juga tradisi-tradisi yang lain yang bisa kita lihat, mungkin juga ini bagian dari tradisi daerah kita yang ada di sekitar kita.
Malam Meriam Karbit di Pontianak

 Acara ini diadakan di tepian Sungai Kapuas dan sudah menjadi tradisi sejak ratusan tahun yang lalu, dentuman meriam yang seirama menjadikan malam takbiran di kota pontianak menjadi gegap gempita.  Meriam ini terbuat dari pohon kelapa atau kayu durian. Jadinya sebuah meriam yang panjang dengan silinder yang lebar. Tak lupa rotan digunakan sebagai pengikat meriam.

Bakar Gunung Api di Bengkulu

 Tradisi yang dilakukan untuk menyambut hari raya Lebaran ini dilakukan oleh Suku Serawai. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukan beratus tahun. Saat malam takbiran, masyarakat akan menyusun batok kelapa yang disusun layaknya tusuk sate. Batok kelapa kemudian dibakar, sebagai simbol dari ucapan syukur kepada Tuhan dan juga doa untuk arwah keluarga.

Grebeg Syawal di Yogyakarta
 Upacara perayaan ini biasanya tak luput dari pemberitaan di media televisi. Acara tersebut merupakan ritual Keraton Yogyakarta yang rutin dilakukan pada Satu Syawal.  Upacara tersebut diawali dengan keluarnya Gunungan Lanang yaitu tumpukan dari sayur-sayuran dan hasil bumi lainnya  dan dibawa ke Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan. Gunungan tersebut dikawal oleh prajurit keraton. Puncaknya, masyarakat akan memperebutkan hasil bumi di Gunung Lanang yang dipercaya membawa keberuntungan bagi mereka.

Ngejot di Bali
 Keindahan toleransi antar masyarakat juga ada di Bali. Nyama Selam yang artinya saudara dari kalangan Muslim, merupakan sebutan khas penduduk Bali yang mayoritas Hindu kepada kerabat sekampung yang beragama Islam. Tradisi yang dilakukan adalah ngejot, yaitu umat Muslim yang merayakan Lebaran memberi hidangan pada tetangga tanpa peduli latar belakang agama. Sebagai balasan, umumnya umat Hindu akan memberi makanan pada tetangganya di Hari Raya Nyepi atau Galungan.
Binarundak di Sulawesi Utara
 Makan nasi jaha beramai-ramai dilakukan oleh masyarakat di Motoboi Besar. Bersama-sama mereka membuat nasi jaha yang terbuat dari beras ketan, santan, dan jahe yang kemudian dimasukan bambu berlapis daun pisang, dan dibakar dengan sabut kelapa. Aktivitas membakar bambu tersebut dilakukan di jalan atau lapangan, selesai dibakar seluruh masyarakat makan bersama sambil bersilaturahmi.
  
Tradisi Pukul Sapu di Maluku Tengah
 Warga Desa Morella dan Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah selalu berkumpul di halaman Masjid Besar pada hari ketujuh Lebaran. Mereka ingin menyaksikan tradisi Pukul Sapu yang biasanya dilakukan perwakilan kelompok pria dari masing-masing desa Mereka akan saling menyabetkan lidi enau ke badan lawan. Berlangsung selama sekitar 30 menit, sabetan-sabetan lidi itu pun bisa mengakibatkan sobek dan luka berdarah pada kulit. Tradisi tersebut  telah berlangsung dari abad XVII yang diciptakan seorang tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuni. Tradisi ini dipertunjukkan sebagai perayaan keberhasilan pembangunan masjid yang selesai dibangun pada 7 syawal setelah Idul Fitri.

Tradisi Batobo di Riau
 Lebaran identik dengan mudik. Maka dari itu warga Kampar, Riau, punya tradisi Batobo yang masih dilestarikan hingga sekarang. Saat ada rombongan perantau  yang datang ke kampung halaman, akan dilakukan upacara penyambutan dengan cara mengarak pemudik menggunakan rebana menuju tempat buka puasa bersama. Setelah usai acara Batobo, akan dilanjutkan dengan pengajian dan lomba baca Al-qur’an saat malam hari. Acara ini adalah ajang melepas rindu dan momen mempererat silaturahmi dengan keluarga dan tetangga.

            Bangsa ini bernama Indonesia adalah takdir Tuhan, dengan beragam suku, budaya, tradisi, dan ribuan pulau yang bertebaran diseluruh wilayah geografi Indonesia adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Dengan takdir Tuhan pula bangsa ini mempunya persatuan yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain di bumi ini.
            Taqobalallaahu minna waminkum taqobbal yaa Kariim. Mohon Maaf lahir dan bathin, Selamat Hari raya Idhul Fitri 1438 H. (SN-DDG)

Sumber:


http://pustamun.blogspot.com/2016/06/arti-dan-asal-usul-kata-lebaran-dalam.html
https://www.mezora.co.id/blogs/news/tradisi-tradisi-unik-rayakan-lebaran-di-indonesia

0 komentar:

Posting Komentar