Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Rabu, 11 Januari 2017

Libur Kuliah Saatnya Berbaur dan Berbagi ILmu Kepada Masyarakat Luas



Waktu terus berlalu teramat disayangkan, jika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan setepat mungkin. Seperti melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, yang bisa membuat dan membangun diri kita menjadi lebih baik.

Terlebih lagi jika profesi utama kita sebagai mahasiswa. Saat di waktu perkuliahan kita banyak belajar, dengan banyak mendengar, banyak melihat, serta banyak merasakan. Apa saja yang dijelaskan oleh para dosen saat mengajar itulah momen yang paling “berharga”.

Momen yang bisa kita jadikan sebagai sarana untuk studi banding, tempat bertanya, tempat berkonsultasi, serta berbagai macam fungsi lainnya untuk kita bisa mendapatkan berbagai penjelasan dari ilmu yang telah, sedang dan hendak kita pelajari.

Waktu efektif perkuliahan di tiap semester biasanya berlangsung hanya empat bulan saja. Selanjutnya dua bulan yang tersisa untuk liburan kuliah. Nah, di saat liburan inilah mahasiswa sebaiknya bergerak produktif bisa dengan bekerja atau berdagang untuk bisa mendapatkan keuntungan yang bisa digunakan untuk kebutuhan semester selanjutnya. Bahkan alangkah lebih baiknya lagi jika para mahasiswa mempraktikkan ilmu dan pengalaman yang di dapatkannya saat di waktu perkuliahan.

Bisa dengan cara berbaur dan berbagi kepada segenap lapisan masyarakat. Kegiatan berbaur dan berbagi ilmu dan pengalaman bisa juga kita dimulai dari ruang lingkup terkecil, yakni dari ruang lingkup keluarga. Dari keluarga kita bisa berbagi ilmu & pengalaman kepada orang tua, adik maupun kakak kita.

Misal, dari mata kuliah tentang “keagamaan” kita bisa berbagi berbagai teori-teori sekaligus metode/ cara mempraktikkan nilai-nilai kegamaan. Bagaimana seharusnya menjadi pribadi yang baik, dari waktu ke waktu, dari kesempatan ke kesempatan yang kita miliki.

Untuk ilmu lainnya misal ilmu sosial, bagaimana seharusnya kita bisa menempatkan diri kita menjadi makhluk sosial, yakni makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Ini bermakna kita harus bisa menjalin kehidupan ini dengan kebersamaan sesama manusia. Namun adanya kalanya kita juga harus bisa menjadi pribadi yang mandiri. Dengan begitu kita bisa menempatkan diri kita di saat bersama maupun di saat sendiri, kita senantiasa bisa menjalani kehidupan ini dengan sebagai mana mestinya.

Atau bisa juga kita membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun. Misal, membuat kegiatan pelatihan untuk membuka dan membangun usaha kecil menengah (UKM), kegiatan pelatihan komputer, kegiatan pelatihan bahasa, pelatihan memahami teori dan cara praktik berdakwah, pelatihan cara/ metode mengajar anak didik, maupun berbagai macam pelatihan lainnya yang bisa kita buat dan kita jalankan.

Pembelajaran kepada masyarakat bagi mahasiswa, berbeda dengan metode pembelajaran santri kepada masyarakat. Para santri sebelum memasuki libur sekolah dibekali dahulu oleh kepala sekolah dan guru-guru. Beda halnya dengan mahasiswa yang tidak dibekali oleh rektor maupun para dosen, mahasiswa dituntut kesadaran dirinya untuk secara “otomatis” untuk bisa memanfaatkan waktu yang ada “liburan” dengan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Ada sebuah hadist yang akan senantiasa menjadi pengingat bagi kita sebagai kalangan akademisi, untuk senantiasa memahami dengan seutuhnya akan makna dari ilmu, yakni ILMU TANPA AMAL SAMA DENGAN POHON TIADA BUAHNYA.

Ilmu bagaikan air, semakin sering diraih dan semakin sering diberikan ilmu kita kepada orang lain maka akan semakin jernih air yang kita miliki. Sekali lagi sayang amat disayangkan jika kita sebagai mahasiswa hanya sebatas menjadi mahasiswa/i KUPU-KUPU, yang hanya kerjanya “kuliah pulang dan kuliah pulang” saja, alias tiada kegiatan produktif yang kita ikuti di intern kampus terlebih lagi kegiatan di ekstern kampus.

Dengan kita menciptakan berbagai kegiatan-kegiatan produktif bagi masyarakat. Secara tak langsung membuat nama kampus menjadi baik dan lebih baik lagi di mata keluarga, masyarakat bahkan di skup penilaian kenegaraan.

Sedikit jika kita membuka kembali lembaran yang pernah kita pelajari dahulu, pada saat masa orientasi kemahasiswaan berlangsung di masa pra kuliah. Adanya tri dharma yang bermakna tiga kewajiban, yang harus dilaksanakan bagi para mahasiswa/i.

Berikut isi dari tri dharma

1. Pendidikan dan pengajaran
2. Penelitian dan pengembangan.
3. Pengabdian kepada masyarakat.

Makna dari kewajiban itu sendiri ialah sesuatu yang harus dilaksanakan. Jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa, menurut kacamata agama. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di Institut Agama Islam, kita sepatutnya mengamalkan tri dharma.

Mari kerahkan daya fikir kita, daya imajinasi kita, daya kreatifitas kita, kehendak hati kita untuk senantiasa melangkah mewujudkan tri dharma. Dari ketiga poin tersebut poin ketiga yang paling esensial.

Sebaik-baik manusia ialah manusia yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, namun juga bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang tak hanya sebatas bermanfaat bagi orang banyak, namun juga dapat menciptakan karya nyata yang bermanfaat bagi orang banyak.

Mari kita jadikan tri dharma sebagai kesadaran dan budaya nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Yang tak hanya saat di dalam kampus saja kita pelajari dan kita praktikkan, tapi juga ke dalam kehidupan nyata untuk bisa kita berbaur dan berbagi ilmu dan pengalaman yang kita raih bagi masyarakat dan negara kita tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.


0 komentar:

Posting Komentar