Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Rabu, 18 November 2015

INDONESIA MENANGIS.. BUKAN KARENA SIAPA PEMIMPINNYA

Indonesia menangis karena ternyata, ia diisi oleh kebanyakan pribadi-pribadi yang jiwanya jauh dari kedamaian. Pribadi yang pandai mengkritik namun tak pandai membangun. Pribadi yang banyak menghujat namun sedikit menebar senyum semangat kebaikan. Pribadi yang pandai berorasi namun tak paham caranya menenangkan emosi.
Rasulullah begitu apik dan bijak dalam berkehidupan. Banyak yang mengaku mencintai Beliau, banyak pula yang mengaku sebagai pengikut Beliau.
Tapi.. yang terlihat, Indonesia ini begitu sepi dari jiwa-jiwa yang tenang lagi menenangkan, sepi dari jiwa-jiwa yang kaya lagi mengayakan. Padahal, Rasulullah begitu rajin menebarkan senyum kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.
Sedangkan kita..
Begitu rajin berkeluh kesah tentang keadaan yang dialami. Tapi sedikit yang peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Rakyat hidup bukan karena siapa pemimpinnya melainkan bagaimana rakyat itu sendiri mampu menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Setiap jiwa bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Setiap jiwa adalah khalifah di muka bumi ini.
Manusia diberikan akal untuk berfikir, diberikan hati nurani untuk merasakan, diberikan pendengaran untuk mendengar, diberikan penglihatan untuk melihat.. semua adalah sarana yang diberikan Tuhan untuk manusia dapat belajar. Belajar melihat, belajar mendengar, belajar bertindak, belajar memilih dan memutuskan semua hal baik yang dibutuhkan jiwa dan nuraninya.
Belajar menjadi pribadi yang mandiri jauh lebih bijak daripada hidup dalam kemarahan. Kita yang memilih jalan hidup sebagai bawahan, kita yang memilih jalan hidup sebagai rakyat, kita yang memilih jalan hidup sebagai pegawai.. itu semua hanyalah nama lain yang lebih terdengar bermartabat tapi sebenarnya tetaplah bermakna "budak". Budak dari perekonomian dunia, budak dari jabatan dalam sebuah instansi, budak dari uang, budak dari kearoganan pikiran kita
 Baca.. Baca.. dan Baca..
Itulah ayat yang pertama kali disampaikan kepada Rasulullah SAW. Di saat Beliau merenung dalam keheningan, Beliau serahkan seluruh jiwa dan hati Beliau kepada Tuhannya demi mencapai ketenangan jiwanya di negerinya, Makkah, Ada apa..? Salahkah kepemimpinan yang berlaku di Makkah..? Salahkah orang-orang yang ada di Makkah..?
Bukan.. ternyata, kesalahan bukan ada pada orang-orangnya melainkan aturan yang dijalankan oleh setiap jiwa yang ada di sana.. Mereka lupa, bahwa ada zat yang lebih berhak dan berwenang membuat aturan untuk bumi ini. Yaa.. hanya dengan kembali pada aturanNya lah, bumi ini dapat terselamatkan. Dengan kembali pada aturanNya lah, jiwa-jiwa yang lahir dengan fitrah dapat hidup secara fitrah.
Mungkin, sudah saatnya kita berhenti menyuarakan kemarahan kita atas sikap dan tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Sudah saatnya kita berhenti berkeluh kesah atas kebijakan yang diberlakukan oleh manusia.
Damaikan jiwa yang kita miliki, tenangkan pikiran kita, Kembalikan diri kita pada kefitrahan hidup.
Yakinkan kembali bahwa hati ini ber-Tuhan. Tuhan yang mengatur kehidupan alam semesta ini. Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu mengalahkan kekuatan Tuhan, berdamailah dengan Tuhan. Mintalah kebaikan untuk negeri ini, untuk diri kita, serta untuk kehidupan alam semesta ini.
Berikan dan tebarkan banyak kebaikan untuk kehidupan ini.. bersatupadulah untuk mendamaikan negeri ini. Abaikan hal-hal yang hanya akan memperkeruh kedamaian bumi ini. Tersenyumlah untuk bumi ini. Apapun keadaannya, tetaplah tersenyum. Karena senyum kita lah yang akan mengubah keadaan ini.
Damailah bersama keindahan senyum dalam hati kita. Hanya hati dan jiwa-jiwa yang tersenyumlah yang mampu menemukan pintu kedamaian. Pintu kedamaian untuk jiwa kita, negeri kita, bahkan alam semesta ini
“Tanpa uang, kehidupan tetaplah bernilai. Tapi tanpa kehidupan, uang tidak akan bernilai.. Maka, buatlah agar uang kehilangan kehidupannnya. Dengan begitu, bukan lagi uang yang menguasai kita. Tapi kitalah yang menguasai uang”
‪#‎terinspirasi oleh cara pandang dan pemikiran tentang kehidupan serta budaya toleransi dan perdamaian yang digagas oleh Bapak Panji Gumilang (Penggagas Berdirinya Pondok Pesantren Al Zaytun, Indramayu)
‪#‎Indonesia adalah negara yang mandiri
#Indonesia adalah negara yang kaya
‪#‎Kita adalah Indonesia
‪#‎Menuju Indonesia yang Rahmatan Lil 'Aalamiin
(SN-Gemah Rizki Amalia, Mahasiswa Institut Agama Islam Al Zaytun Indonesia)

3 komentar: