Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Kamis, 09 Juli 2015

SISI LAIN BOROBUDUR


Jum’at pagi 17 Mei 2015, Desa Salaman masih diliputi kabut tipis, ketika serombongan tentara memasuki sebuah tempat yang menjadi arena unjuk kemampuan antar prajurit TNI- AD. Di pintu masuk tertulis (maaf kalau penulis salah, karena hanya sepintas membacanya) “Selamat Datang Kepada Peserta Lomba Adu Tangkas TNI-AD”.
Lelah perjalanan 1,5 jam dari Purworejo terobati sudah saat memasuki pertigaan Desa Salaman, yaitu satu-satunya pertigaan yang terakhir dengan arahnya ke kiri Magelang sedangkan kanannya yang mengarah langsung ke Desa Borobudur dimana candi Borobudur itu berada. Tempat obyek wisata dunia yang juga ditetapkan  sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia oleh Monumente Ordonnantie Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238. Yang menurut kabar didirikan oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra sekitar tahun 824 Masehi. Bahkan ada juga yang berani berpendapat bahwa Candi Borobudur itu dibangun oleh Nabi Sulaiman.
Siapapun yang membangun mungkin tidak pernah terpikirkan Candi Borobudur ini berfungsi seperti sekarang ini, sebagai sebuah peninggalan sejarah yang luar biasa hanya dijadikan sebuah tontonan yang entah dalam benak pengunjung itu apa, mungkin saja mereka terheran-heran, takjub, kagum, menganggap hebat dalam masa primitif bisa membangun sedemikian bagus, atau bisa saja tidak mempunyai asumsi apapun terhadap yang dilihatnya.
Raja manapun yang membangun Borobudur ini mungkin tak pernah mempunyai rencana bangunan yang ia dirikan akan dijadikan objek segala kegiatan yang ada disana. Dengan dalih ilmu pengetahuan para ilmuwan meneliti, dengan dalih pemasukan kas daerah pemerintah setempat menetapkan tarif masuk, dengan dalih ekonomi rakyat maka dibangunlah pasar dari jajanan sampai souvenir semuanya ada disekitarnya, bahkan ada juga orang yang bertindak sebagai ‘penolong’ menawarkan jasanya dengan mengaku sebagai ‘saudara’ dengan masuk lewat pintu keluar dan meminta bayaran dibawah harga tiket masuk resminya.
Inilah potret nyata penghargaan bangsa ini yang disana sebuah peradaban pernah hidup dan berjaya. Penghargaan yang menurut penulis mungkin beginilah cara negara ketiga (meminjam istilah orang luar dan pejabat kita-Red) menghargai tempat atau barang bersejarah seperti di banyak tempat bukan hanya disini, di Borobudur. Penulis sendiri sebenarnya tidak begitu faham, baik atau benarkah cara yang sudah ada ini. Akan tetapi penulis merasakan selalu ada hal menarik yang ada disetiap obyek-obyek wisata di negeri ini. Bangsa Indonesia dengan segala keindahan alam dan segalanya, selalu ada diikuti dengan keunikan tingkah laku dan keindahan cara yang ada di depan mata kita yang kasat. Semoga Allah, Tuhan Semesta Alam menjaga Bangsa ini dalam segala kondisinya agar selalu bisa membenahi diri dan membangun. SN-DDG


0 komentar:

Posting Komentar