Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Kamis, 30 April 2015

MITOS JEMBATAN SEWO, BERBUAH SEWU

       
“Sewu (seribu-red), lumayan kang”, ujar Heri (13 thn) setelah kembali lagi jongkok di pinggir jembatan sewo. Heri dan yang lain yang berada di jembatan itu berebut uang receh yang di ‘buang’ penumpang sebuah mini bus dari arah Jakarta menuju jalur Jawa Tengah. Kejadian seperti ini akan kita jumpai setiap hari apabila kita melintas jalur Pantura, di tugu perbatasan Subang-Indramayu tepatnya di daerah kecamatan Pusakanegara di Subang-nya dan Kecamatan Sukra di Indramayu-nya.
       Menurut Yati (42 thn), salah seorang penduduk, ”cerita para orang tua yang menjadi mitos, sudah menjadi tradisi para pengemudi, setiap yang lewat jembatan Sewo jika tidak melemparkan uang recehan, katanya selama diperjalanan akan diganggu makhluk halus hingga terjadi kecelakaan yang dibuat oleh makhluk halus penunggu jembatan tersebut.”
     “Hanya Allah yang Maha Tahu, karena ini hanya mitos orang tua dahulu jaman kakek saya” ujarnya yang ditemui di depan Polsek Sukra dekat jembatan sewo.
      Bahkan menurut Salim, warga sekitar jembatan Sewo mempercayai bahwa dari sekian banyak yang memegang sapu di jembatan itu adalah siluman penunggu yang ‘nyaru’ ikut dalam pemburuan uang receh di sana, “saya yakin kang, ada diantara mereka (pemegang sapu-red) itu siluman penunggu jembatan” katanya, “karena sungai yang dibawah jembatan itu dihuni banyak makhluk halus, ada kuntilanak, siluman buaya putih, dan kabarnya nyai ronggeng juga ada disana kang”
    Ada banyak cerita dibalik jembatan ini, mitos jembatan Sewo juga lekat dengan tragedi kecelakaan bus transmigran perintis asal Boyolali, Jawa Tengah pada 11 Maret 1974. Ceritanya, para transmigran hendak berangkat ke Sumatera Selatan. Namun nahas, saat melintas di jembatan Sewo, bus mereka terperosok masuk ke dalam sungai dan terbakar. Sebanyak 67 penumpang tewas, konon hanya tiga anak saja yang selamat. Untuk menghormati kecelakaan tragis itu, warga Boyolali yang melintasi jembatan itu selalu membuang uang recehan. Belakangan hal itu menjadi tradisi pengemudi yang lewat jembatan Sewo, baik sopir truk, bus, maupun masyarakat umum. Sampai sekarang, penduduk sekitar jembatan memanfaatkan benar tradisi itu. Koin tidak lagi dibuang ke sungai, tapi ke aspal diatas jembatan.
      Terlepas dari itu semua, sesungguhnya adalah gambaran keterbelakangan dalam segala hal warga sekitar merupakan alasan yang tepat hingga mereka seperti orang-orang yang hidup jauh sebelum datangnya agama pada mereka.Wallaahu a’lam bisshowwab.SN-DDG

0 komentar:

Posting Komentar