Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Sabtu, 18 April 2015

Dari Asyafi'iyah Ke Al Zaytun Menyambung Asa


Pada tanggal 29 Maret 2015 yang lalu, sebanyak 15 orang Mahasiswa Universitas Islam Asyafi’iyah Jakarta, berkunjung di Al Zaytun. Tempat yang pertama dikunjungi adalah masjid, setelah menunaikan solat dhuhur serta istirahat sebentar disana, rombongan menuju sekretariat pendidikan. Diterima oleh ketua Dewan Guru Al Zaytun, Ustadz Ali Aminulloh. Ustadz Ali memberikan keterangan tentang sejarah berdirinya Al Zaytun, visi dan misi pendidikannya serta beberapa keterangan yang dianggap perlu untuk diketahui oleh rombongan. Kemudian rombongan dibawa dan dipandu oleh Ustadz Ali Aminulloh dengan didampingi seorang wartawan Majlah Al Zaytun yaitu Mugi Santosa mengunjungi beberapa fasilitas yang ada. Setelah kunjungan di beberapa tempat itu, kami sempatkan untuk mewawancarai beberapa orang yang ikut dalam rombongan itu diantaranya Edi Gunawan, mahasiswa Fakultas Agama Islam Program Studi Perbankan Syariah Semester 3, memberikan komentarnya, “pas meninjau lokasi Al Zaytun ini saya sangat senang sekali, karena memikirkan untuk jangka waktu yang panjang, contohnya dengan membangun masjid, itu berarti memikirkan tentang peradaban Islam masa sekarang nanti bisa menjadi warisan dimasa yang akan datang, ratusan tahun kemudian” lanjutnya,”untuk bidang-bidang lainnya, ini cukup berdikari, mandiri tidak bergantung kepada yang lain”

Afka Faridi mengkritisi keberadaan karyawan di Al Zaytun ini, “apakah ada semacam kerjasama dengan Pemda Indramayu, dan orang disekitar Al Zaytun yang menjadi karyawan, karena memungkinkan untuk rasa memilikinya yang tinggi apabila dia menjadi karyawan sini (Al Zaytun-red)”. Faridi yang belajar di Fakultas Tarbiyah ini lebih lanjut mengungkapkan, “apakah ada dukungan dari Pemerintah Indramayu dalam berbagai fasilitas seperti jalan, karena bisa saja Al Zaytun bekerja sama dengan pihak Pemda, karena yang saya lihat dari masyarakatnya banyak yang mendukung atas keberadaan Al Zaytun ini dengan adanya petani sebanyak 92 orang itu (P3KPI-red), saya rasa jarang lho ada masyarakat desa yang ingin membangun desanya sendiri, kebanyakannya ingin membangun desa orang lain”. Dan ketika ditanya adakah masukan yang ingin disampaikan sehubungan dengan kunjungan ini? Dengan tegas pemuda ini menjjawab, “akses jalan saja karena tamu disini kan dari berbagai daerah, masa dalamnya bagus, lengkap, enak, tapi luarnya jelek banget (Jalan-red), dan ini juga untuk mempercepat jarak tempuh”.

Ada juga Zaenal Muttaqin dari Tarbiyah, “Sangat terkejut ya, ketika melihat dari dekat pesantren yang kata orang menyimpang itu, ternyata Islam itu memang benar-benar Rahmatan Lil –Alamin, Cuma sayang akses jalan yang tidak bagus, itu saja”.
Setelah Zaenal, ada Yusuf Abdullah yang mempertanyakan, “Bagaimana Al Zaytun berinteraksi dengan masyarakat sekitar? Apakah dengan mengadakan pengajian bersama? Atau ada ‘dauroh’(pelatihan-red) atau juga di bulan Romadhon ada buka bersama misalnya”. Yusuf juga sangat tertarik dengan program tahfidh quran, “Sebagai seorang muslim apabila kita ada program untuk menghapal quran maka itu akan sangat kurang sekali, karena untuk menyongsong peradaban islam yang modern kita harus kembali kepada undang-undangnya yang telah dibuat Allah, yang sudah diperjelas dalam alquran dan juga diperjelas lagi dengan hadits-hadits dan para ulama yang telah membantu menafsirkan agar lebih jelas lagi bagaimana caranya yang layak, yang pantas untuk kita apresiasikan, kita amalkan dari alquran itu, jadi kita tanpa ulama kita itu nol, saya ingin tahu metode seperti apa yang diterapkan untuk menghapal, karena saya yakin santri-satri disini sangat mudah dalam menghapal, karena Allah memberi janji dalam surat Al-Qomar itu sampe ayatnya itu diulang tiga kali ‘telah Kami permudah’ berarti kita akan dipermudah baik itu anak-anak, dewasa maupun kakek-nenek, tapi yang lebih susah adalah menjaganya, karena dalam sebuah riwayat, hapalan alquran itu lebih cepat hilangnya dari unta yang tertambat, maka saya ingin lebih bisa melihat bagaimana caranya Al Zaytun mendidik santrinya supaya bisa menghadapi sebagai visinya Islam yang modern” tutupnya.SN-DDG, MGS

0 komentar:

Posting Komentar