Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Sabtu, 06 September 2014

Tirta Sangga Jaya, Mimpi untuk Jakarta 2015

Syaykh AS Panji Gumilang, bermimpi untuk menyelesaikan masalah Ibukota Negara secara holistik. Yakni membangun Tirta Sangga Jaya (TSJ) - kanal air penyangga Jakarta Raya, yang multi fungsi. Selain untuk mengatasi banjir, juga berguna sebagai infrastruktur transportasi, pariwisata dan lain-lain. Segunung masalah Ibukota Negara tak akan pernah selesai bilamana hanya berkutat di Jakarta. Soalnya, Jakarta dibangun tanpa rencana induk yang terintegrasi dengan kawasan belakang dan samping. Tata ruang Ibukota Negara semrawut lantaran izin berbagai bangunan yang tumpang tindih. Jakarta lebih berwujud kota yang kumuh, kotor, penuh polusi, semrawut, miskin dan penyakitan, ketimbang metropolitan modern. Karenanya, Syaykh AS Panji Gumilang, pimpinan Pusat Pendidikan Al-Zaytun, bermimpi untuk menyelesaikan masalah Ibukota Negara secara holistik. Syaykh Al-Zaytun  saat ini sedang membangun Waduk Windu Kencana yang terintegrasi dengan sistem pengelolaan air di lingkungan pusat pendidikan tersebut. Al-Zaytun yang kini berdiri megah di tengah kawasan pedusunan di Gantar, Indramayu, berawal dari sebuah mimpi juga. Lewat tengah malam yang hening, pikiran (kreasi) Syaykh melahirkan mimpi indah, yaitu berlayar dari pelabuhan petikemas Mauk, Banten, menuju water interchange Cibinong, Jawa Barat. Para pelancong memulai perjalanan pesiarnya di bawah pancaran sinar bulan purnama, ditingkahi semilir angin buritan. Sepanjang pelayaran, mereka tak henti-hentinya menengok ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. Pohon-pohon dan jalur hijau mengapit jalan dua arah yang dipisah oleh Tirta Sangga Jaya (TSJ) - kanal air penyangga Jakarta Raya - bergoyang diterpa angin semilir yang sejuk di celah keindahan panorama alam dan sinar bulan. Lampu-lampu mobil besar dan kecil terpendar-pendar ketika melewati jalan bebas hambatan (tol) yang membentang lebar di kiri-kanan sungai (kanal TSJ) yang baru saja dibuka untuk pelayaran pesiar. Sinar rembulan terpendar di permukaan sungai yang tenang dan jernih. Para pelancong malam itu menempuh pelayaran berjam-jam, namun tidak merasa letih sedikitpun. Sesampai di Cibinong interchange, rombongan mendarat, menunggu malam berikutnya untuk melanjutkan pesiar. Di Cibinong, mereka menginap di sebuah hotel transit yang menghadap ke waduk yang berair keperakan. Dari kejauhan, di pinggir danau buatan itu, mereka menyaksikan stadion olahraga, lapangan golf, hotel, motel dan vila yang berderet harmonis dengan pemukiman penduduk dan hamparan kawasan pertanian. Rombongan pesiar benar-benar menikmati waktu jeda mereka sembari berekreasi di danau Cibinong, sebelum melanjutkan pesiar yang sama menuju pelabuhan Muara Jaya di pantai Karawang. Namun menjelang subuh, mereka terjaga dari mimpi indah lantaran mendengar alunan azan subuh tidak jauh dari hotel. Inilah kira-kira, Mimpi untuk Jakarta 2015, yang terbayangkan dalam dialog antara Syaykh dan tim Lihat Daftar Wartawan wartawan Berita Indonesia—Ch Robin Simanullang, Haposan Tampubolon dan Wilson Edward, dua pekan lalu. Mimpi ini dijabarkan dalam peta dan desain oleh Dendy Hendrias dan Arif Maulana, dituangkan dalam tulisan oleh Syahbuddin Hamzah dan Henry Maruasas. Di dalam peta tersebut tergambar jelas sebuah kawasan megapolitan ratusan kilometer per segi yang membentang dari Cibinong ke Mauk dan dari Cibinong ke Muara Jaya. Kawasan ini dihubungkan oleh kanal TSJ yang berbentuk huruf U, menyangga Jakarta dari ancaman banjir tahunan, kerumitan transportasi darat, pemukiman yang semrawut serta sungai-sungai yang kotor dan berbau anyir. Pada musim kemarau, TSJ berfungsi sebagai sarana irigasi bagi persawahan di Banten dan Pantura. Fungsi lainnya, sebagai sarana transportasi air, dan menggelontorkan sungai-sungai kecil yang kotor di Jakarta. Sungai TSJ merupakan sabuk pengaman Jakarta, diperkirakan sepanjang 240 kilometer, dan selebar 100 meter. Di kiri-kanan sungai dibangun jalan tol dari arah timur menuju ke barat dan sebaliknya untuk mencegah kendaraan-kendaraan besar yang menuju Sumatera dan Jawa-Bali-NTB-NTT, melintas jalan dalam kota Jakarta. Jalan tol ini di kiri-kanan diapit oleh jalur hijau. Jalan tol dan sungai TSJ melewati enam daerah kabupaten dan kota dari dua provinsi—Banten dan Jawa Barat. Berdasarkan peta yang disusun BI, aliran sungai TSJ, memotong empat sungai besar—Cisadane, Ciliwung, Bekasi dan Citarum—serta 13 sungai kecil yang menyerbu Jakarta, terutama di musim hujan. Sungai-sungai tersebut dikendalikan oleh TSJ melalui waduk dan pintu-pintu air pembagi yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Sedangkan aliran Kali Ciliwung yang merupakan ancaman terbesar pusat Jakarta pada musim hujan, dikendalikan di waduk Cibinong. Selain pengendali banjir, TSJ juga berfungsi sebagai sarana transportasi—termasuk angkutan peti kemas dengan kapal ukuran sedang—pembangkit listrik tenaga air, pengairan, perikanan air sungai dan pemasok air baku untuk keperluan air bersih Jakarta dan daerah-daerah di sekelilingnya. Untuk pembangunan proyek raksasa dan monumental itu perlu dibentuk Badan Otorita TSJ yang bertanggung jawab langsung pada Presiden. Karena, di samping butuh biaya yang sangat besar, kawasan baru ini diharapkan mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional lantaran menggeliatnya kegiatan-kegiatan transportasi peti kemas dan jalan tol, rekreasi, perhotelan dan pertanian. Sumber pembiayaan bisa ditarik lewat ORI (Obligasi RI) dan SUN (Surat Utang Negara) yang ditawarkan kepada anggota masyarakat yang berkemampuan. Boleh jadi selama pembangunan, proyek raksasa (dalam mimpi ini) melibatkan ratusan ribu pekerja. Bandingkan dengan Terusan Suez di Mesir, sepanjang 164 kilometer dan lebar 60 meter, melibatkan pekerja paksa 80.000 orang. Semoga mimpi ini terwujud di tahun 2015.

0 komentar:

Posting Komentar