Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Kamis, 03 April 2014

RUMAH INI KENYATAANNYA SUDAH RAPUH

     Rumah ini sudah terlihat kumuh, jendelanya selalu saja terbuka.Tetangga kanan dan kiri bisa dengan leluasa melihat ke dalam rumah dengan segala pernik di dalamnya.Kadang, jendelanya tertutup, tapi pintunyalah yang berganti terbuka.
     Banyak juga diantara penghuni rumah membawa hiasan rumah tetangga ke rumah ini, walaupun secara bentuk apapun tak pantas dibawa apalagi dipajang ditempat yang sangat terlihat banyak orang.
     Rumah ini sudah terlihat tak terurus, halamannya sudah tak bersih lagi. Banyak tanaman liar dan perdu yang tumbuh tidak beraturan, ada banyak tangkai pohon bunga yang baunya harum, tapi tak terlihat lagi. Atau sudah tak bisa dibedakan mana rumput perdu, mana juga bunga yang harum itu.
    Rumah ini sudah miring ke kiri, bukan seperti menara pisa yang di Itali itu, tapi rumah ini miring karena mungkin saja pondasinya sudah berubah letaknya, dengan begitu struktur bangunannya pun ikut-ikutan merubah diri.
     Rumah ini sebenarnya rumah yang indah, megah dan luas.Karena arsiteknya bukan arsitek sembarangan, dengan gaya arsitektur terhebat yang pernah ada dimuka bumi ini. Banyak orang iri melihatnya dulu, rumah yang berdiri 69 tahun yang lalu. Banyak tetangga yang melirik bahkan ada yang ingin membeli dengan hanya sekali saja melihat rumah yang baru, dengan eksterior dan interior yang sangat membanggakan, halaman yang bersih dan luas, ditanami dengan berbagai macam tanaman yang berguna, bunga-bunga yang harum, pagar yang dibuat sendiri dengan tanaman pohon angsana disebelah barat, pohon johar jakarta disebelah utara, pohon pete cina di sebelah selatan dan meranti di sebelah timur rumah yang asri ini.
     Waktu itu di halaman depan ada kolam kecil yang sering orangmenyebut kolam kebaikan, karena disitulah penghuni rumah bercengkrama dan berdoa demi kebaikan rumah dan seisinya, bahkan banyak diantara penghuni juga saling melemparkan pendapat, berselisih dan berangkulan, tak pernah ke lain tempat selain di halaman yang berkolam air jernih itu. Dan dibelakangnya ada juga sungai kecil yang mengalirkan air hujan, yang hulunya ada di atas sebuah bukit tak jauh dari belakang rumah indah ini Setiap musim hujan, air di sungai kecil itu sangat melimpah, karena air itu tak ada yang menghalangi jatuh ke muara sungai yang kebetulan letak muaranya masih disampingnya yaitu sungai besar yang airnya tak pernah berhenti mengalir datang dan pergi menuju ke muara yang lebih besar lagi yaitu laut, yang entah laut mana.
    Rumah ini sudah menganga atapnya, saat musim panas, teriknya terasa menembus kulit yang sudah mulai terlihat bersisik dan kering.Pada waktu musim hujan datang, air masuk dengan sangat leluasanya.membuat gaduh penghuninya, yang kadang bersikap aneh. Ada yang ingin merasakan air hujannya banyak, ada juga yang ingin merasakan hujannya sedikit, bahkan ada juga yang tidak mau merasakan kehujanan sama sekali. Sekali waktu pernah hujan turun deras, ada diantara penghuni rumahyang tidak merasakan hujan setitik air pun. Dia mengadu kemana-mana,ke tetangga, ke teman, ke tembok, ke halaman, kemana saja dia adukan kejadian yang menurut dia aib yang mesti dibuka dimana-mana dengan kejadian itu.Itulah rumah ini di hari ini.
     Kini anak-anak, handai taulan, sanak family dan kerabat penghuni rumah jauh ataupun dekat, banyak yang mencari rumah lain, yang menurut mereka lebih enak ditinggali, lebih nyaman untuk ditempati.Tidak seperti rumah yang selama ini dia jadikan tanah tumpah darahnya. Banyak diantara mereka yang sudah tidak betah lagi tinggal tapi memaksakan diri karena mereka anggap bahwa bagus atau jeleknya tempat tinggal, mesti diterima dengan lapang dada sambil tak lupa suatu saat nanti diperbaiki bersama-sama.
Sebenarnya pernah satu dua orang mencoba memperbaiki rumah ini dengan segala keterbatasannya, dan dengan segala kekurangannya.Tapi mengapa sampai sekarang rumah ini belum saja bisa berubah, pancangnya miring, atapnya bocor, pondasinya rubah posisi, dan halamannya tak berbentuk seperti halaman rumah yang terurus.
     Yang paling mengherankan adalah para penghuninya sulit sekali diatur, padahal sudah ada kesepakatan tentang aturan yang ada di rumah ini. Anak-anak kita seolah tak pernah berfikir rumah lagi, mereka lebih nyaman tinggal dijalanan dengan segala kegalauan, keresahan akan masa depan yang ingin mereka dapatkan.Dengan segala hasrat mudanya yang kadang tak tertampung dan terbendung.Dengan desahan nafasnya yang kadang terdengar sangat berat dan sesak.Dan dengan keluhan yang kerap terdengar sampai kerelung-relung rumah ini, namun tak satupun bapak-ibunya mendengar dan menjemput impian mereka yang indah dan hangat.
     Saat ini mungkin hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang punya rumah ini, "Ya Tuhanku, jadikanlah rumah ini, surga bagi penghuninya, Ya Tuhanku, Pemilik rumah ini,jadikanlah segalanya lebih baik di tahun-tahun yang akan datang, karena hanya Engkaulah tumpuan kami terakhir dalam membina rumah kami yang kami cintai ini, memang kami berbeda, itu karena Engkau, kami sejalan itupun karena Engkau, maka berkatilah perjalanan kami dalam membina dan membangun rumah kami yang sudah mulai terlihat tak indah lagi, kabulkanlah Ya Tuhan kami". Diantara semua itu aku masih punya keyakinan yang mendalam, akan ada masanya rumah ini menjadi rumah terbaik didunia, pada masa dan zamannya kelak, dengan penghuni yang sudah tak lagi berkeluh kesah. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar