Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Sabtu, 29 Maret 2014

Sandrem: Nama Tak Bermakna yang Kini Punya Makna

Masjid Rahmatan Lil Alamin di Al-Zaytun, Kampung Sandrem
Sandrem, adalah nama kampung dipinggiran selatan Kabupaten Indramayu. Tepatnya ia terletak di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Wilayah ini berada di segitiga kabupaten di Jawa Barat. Kesebelah selatan sudah dekat ke Kabupaten Sumedang,  kesebelah barat-selatan dekat ke Kabupaten Subang, dan keberadaanya sendiri di wilayah Kabupaten Indramayu. 
Kampung sandrem, bisa dikatakan wilayah yang tertinggal yang ada di Kabupaten Indramayu. Jalanan yang ada hanya untuk orang lewat atau diistilahkan jalan setapak untuk masyarakat setempat. Ada istilah “Jangankan orang, jin saja takut untuk lewat Kampung Sandrem.” Ini menandakan karena Kampung Sandrem yang berada di pelosok.
Itu adalah cerita dulu. Kini seiring perjalanan waktu, Kampung Sandrem mulai dikenal orang. Tentu orang mengenal Sandrem bukan secara tiba-tiba, ini terjadi setelah di kampung ini berdiri pesantren modern yang bernama Ma’had Al-Zaytun.
Ma’had Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang bercirikan pesantren. Ma’had Al-Zaytun diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ketiga yaitu Prof. Ing. B.J. Habibie pada tanggal 27 Agustus 1999M.
Motto Al-Zaytun adalah “Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Tolerasi dan Perdamaian.” Arah dan tujuan pendidikan Al-Zaytun adalah mempersiapkan peserta didik untuk beraqidah yang kokoh kuat terhadap Allah dan syari’atnya, menyatu dalam tauhid, berakhlaqul karimah, berilmu pengetahuan luas, berketerampilan tinggi yang tersimpul dalam Bashthotan fil ilmi wal jismi. Sehingga sanggup siap dan mampu untuk hidup secara dinamis di lingkungan negara bangsanya dan masyarakat antar bangsa dengan penuh kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi mahupun ukhrowi.
Kini Al-Zaytun mempunyai ribuan santri/siswa yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan mereka ada yang dari luar negri, seperti, Malaysia, Singapura, Timorleste, Afrika Selatan.
Tamu yang berkunjung ke Al-Zaytun pun sudah ribuan. Mereka dari berbagai kalangan, ada yang dari pejabat negara, praktisi pendidikan, majelis ta’lim bahkan para duta negara pun banyak yang telah berkunjung ke Al-Zaytun.
Dengan animo santri yang belajar dan tamu yang berkunjung ke Al-Zaytun sudah barang tentu mereka berkunjung pula ke Kampung Sandrem karena Al-Zaytun berlokasi di sana. Ini berarti Kampung Sandrem kini sudah tidak terbelakang lagi, kini mulai dikenal. Walupun orang lebih mengenal nama Al-Zaytun-nya, namun setidaknya dengan adanya Al-Zaytun dan banyak santri yang menuntut ilmu dan banyak tamu yang berkunjung membuat nama Sandrem kini lebih bermakna.
Jalanan yang tadinya jalan setapak, kini walaupun belum bagus, namun kendaraan sudah hilir mudik. Bahkan kendaraan sekelas yang pernah membawa presiden, atau membawa para duta besar negara-negara Islam, atau duta besar Amereka pun pernah melewatinya.
Menurut Bupati Indramayu, Hj. Ana Shophana, Indramyu yang dulu terkenal dengan sebutan RCTI-nya (rangda cilik turunan Indramayu), kini setelah adanya Al-Zaytun mulai terkenal dengan pesantrennya, yaitu pesantren Al-Zaytun. Ini menandakan Al-Zaytun membawa dampak positif , khususnya untuk Kabupaten Indramayu.
Syaykh Al-Zaytun, Dr. AS. Panji Gumilang, pimpinan Al-Zaytun mengatakan bahwa antara Al-Zaytun dan Indramayu kini bagai dua sisi mata uang. Tatkala mengatakan Al-Zaytun orang akan berkata “Oh itu yang di Indramayu.” Begitu juga sebaliknya, ketika mengatakan Indramayu orang berkata “Oh itu yang ada pesantren Al-Zaytunnya.”
Bagimana dengan Sandrem? Tentu dengan adanya Al-Zaytun, bukan hanya mengangkat wilayah sandrem yang tadinya terisolir kini menjadi rame, namun dari sisi namapun kini punya makna. Mungkin nama Sandrem pada awalnya hanya sebuah nama yang biasa yang tidak punya makna, namun kini dengan adanya Al-Zaytun sebagai sebuah lembaga pendidikan pesantren, Sandrem dapat di artikan Santri Dermayu (Santri Indramayu), karena di kampung ini banyak santri yag sedang menuntut ilmu.

11 komentar:

  1. blog yang baik, semoga bermanfaat dalam masa yang kan datang.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. sering2 tengok Blog ini pak Hernawan

      Hapus
  3. mak nyusssss....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang ada wisata kuliner yang maknyussnya nyusul.. hehe

      Hapus
  4. boleh jg nih ulasanya....

    BalasHapus
  5. tengok kanan kiri....ada penunggunya engga.......

    BalasHapus
  6. ada lah, ini kan selalu bakal update bang...

    BalasHapus
  7. judulnya gini, Nama yg dulu tak berarti, kini penuh makna. Jangan make kata yg dua kali

    BalasHapus