Karya Jurnalistik

Media Informasi & Edukasi
close
close

Tol Cikopo - Palimanan

Tol Cikopo - Palimanan merupakan tol terpanjang yang ada di Indonesia saat ini dengan panjang 116,7 KM

MASJID RAHMATAN LIL ALAMIN

Satu-satunya masjid di dunia yang bernama Rahmatan Lil Alamin, di Kampus Al-Zaytun, Kp. Sandrem, Ds. Mekarjaya, Kec. Gantar, Indramayu, Indonesia.

Salah Satu Pintu Tol Cipali

Pintu Tol Cikedung dapat mengakses Indramayu seperti Al-Zaytun, Gantar, Haurgeulis, Cikamurang dan juga Sumedang

Azwar di IAI Al-Zaytun Indonesia

Dosen jurnalistik menerangkan ilmu kewartawanan dihadapan para mahasiswanya

Dikantor Redaksi

Dialog dengan reporter Majalah Al-Zaytun

Jembatan Sewo

Berjuta mitos dan cerita di balik jembatan yang berada di jalur Pantura perbatasan Indramayu dan Subang

Jalan Cadas Pangeran

Kisah pilu dan semangat perjuangan menyertai pembangunan jalan yang menghubungkan Bandung dan Sumedang yang dituangkan dalam sebuah syair lagu parahiyangan

Senin, 26 Maret 2018

LEMBAGA PENYIARAN

PENDAHULUAN
Penyiaran di Indonesia sebenarnya sudah di atur semenjak jaman Hindia Belanda Sejak dikeluarkannya Radiowet oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1934. Secara tidak langsung peraturan tersebut dijadikan pijakan untuk pendirian NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschaapij) yaitu sebuah radio milik pemerintah Hindia belanda yang memperoleh hak-hak istimewa lewat Radiowet yang dikeluarkan pada waktu itu. Peraturan ini terus mengalami perubahan seiring bermunculannya radio-radio siaran. Padahal kalau dilihat sejarahnya, Bataviase Radio Vereniging (BRV) sudah lebih dulu mengudara dibanding NIROM. Solossche Radio Vereniging (SRV) di Solo, Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO) di Yogjakarta, Verniging Oosterse Radio Luisteraars (VORO) di Bandung, Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep (VORO) di Surakarta, Chineese en Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) di Surabaya, Eerste Madiunse Radio Omroep (EMRO) di Madiun dan Radio Semarang di Semarang.
Sejarah perkembangan penyiaran di Indonesia sendiri mulai menemukan geliatnya sejak disahkannya UU penyiaran oleh Presiden pada tahun 1997, dengan terbitnya UU no 24 Tahun 1997. Hal yang sangat penting dengan dikeluarkannya UU Penyiaran adalah pengakuan pemerintah kepada lembaga penyiaran swasta yang sebelumnya hanya Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang diakui pemerintah waktu itu[1].
Seiring perkembangan waktu maka di Indonesia dikenal bermacam-macam lembaga penyiaran yaitu:
1. Lembaga Penyiaran Swasta
2. Lembaga Penyiaran Publik
3. Lembaga Penyiaran Komunitas, dan
4. Lembaga Penyiaran Berlangganan.
Sebelumnya dalam UU No 24 Tahun 1997 dikenal dengan Lembaga Penyiaran Pemerintah, kemudian ada perubahan dalam UU Penyiaran yang baru yaitu UU no 32 Tahun 2002.
Dalam makalah ini hanya akan membahas tentang lembaga penyiaran pemerintah, publik, dan swasta.

PEMBAHASAN
1. Lembaga Penyiaran Pemerintah
1.1 Pengertian
Dalam UU no 24 Tahun 1997 Pasal 10 (1) Lembaga Penyiaran Pemerintah adalah suatu unit kerja organik di bidang penyiaran di lingkungan Departemen Penerangan, yang diberi wewenang khusus, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri, serta berkedudukan di ibu kota negara, yang stasiun penyiarannya berada di ibu kota negara, ibu kota propinsi, dan ibu kota kabupaten/kotamadya yang dianggap perlu.
Pasal ini menerangkan bahwa lembaga penyiaran ini bagian dari lembaga pemerintah yang berada di bawah Menteri Penerangan yang secara otomatis bertanggung jawab kepadanya. Kemudian setelah terbit UU No 32 Tahun 2002, lembaga penyiaran ini berubah menjadi Lembaga Penyiaran Publik yang di atur dalam pasal 14 dan 15 yang kemudian secara pengertiannya pun berubah menjadi lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara, bersifat independen, netral, tidak komersial, dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat (14 ayat 1), Lembaga Penyiaran Publik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas Radio Republik Indonesia dan Televisi Republik Indonesia yang stasiun pusat penyiarannya berada di ibukota Negara Republik Indonesia (Pasal 14 Ayat 2).
Hal yang membedakan keduanya adalah pertama dalam UU No 24 Tahun 1997 bernama lembaga penyiaran pemerintah yang berada di bawah Menteri Penerangan dan bertanggung jawab kepadanya pengaturannya juga masih menggunakan peraturan pemerintah dalam aktifitasnya sedangkan dalam UU No 32 Tahun 2002 di bentuk Dewan Pengawas dan Dewan Direksi yang semuanya diatur dalam Undang-undang yang yang berlaku tentang penyiaran dan segala bentuk aktifitasnya.
Tentang perubahan status TVRI menjadi Persero dan nama dari penyiaran pemerintah menjadi penyiaran publik ini di atur dalam Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2005[2].
Kedua, dalam segi pembiayaan pada UU No 32 Tahun 2002 lebih terbuka dan beragam dibanding pada UU No 24 Tahun 1997. Pasal 10 Ayat (7) menerangkan:
a. Sumber pembiayaan Lembaga Penyiaran Pemerintah diperoleh dari: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);
b. Alokasi dana dari iuran penyiaran, kontribusi, dan biaya izin penyelenggaraan penyiaran;
c. Alokasi dana dari siaran iklan niaga Radio Republik Indonesia; dan
d. Usaha-usaha lain yang sah.
Sedangkan dalam UU No 32 Tahun 2002 menerangkan pada Pasal 15 (1) Sumber pembiayaan Lembaga Penyiaran Publik berasal dari :
a. Iuran penyiaran;
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
c. Sumbangan masyarakat;
d. Siaran iklan; dan
e. Usaha lain yang sah yang terkait dengan penyelenggaraan penyiaran.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Lembaga Penyiaran Pemerintah/Publik adalah lembaga penyiaran yang berada dalam pengawasan dan pengaturan pemerintah bersifat independen, netral, tidak komersial, serta bertujuan untuk melayani kepentingan kepada informasi masyarakat, dan dibiayai oleh negara.
UU No 32 Tahun 2002 juga membagi lembaga penyiaran publik kepada dua kategori sesuai tempatnya, (1) Lembaga Penyiaran Publik, dan (2) Lembaga Penyiaran Publik Lokal yang diatur dalam pasal 14 Ayat 3 yang berbunyi di daerah provinsi, kabupaten, atau kota dapat didirikan Lembaga Penyiaran Publik lokal. Untuk lebih jelasnya ada dalam lampiran UU No 32 Tahun 2002.
2. Lembaga Penyiaran Swasta
2.1 Pengertian
Seperti yang sudah dibahas dalam pendahuluan, hal yang sangat penting dari lahirnya UU Penyiaran Tahun 1997 adalah diakuinya Lembaga Penyaiaran Swasta, dengan beragamnya lembaga penyiaran maka semakin beragam pula informasi yang sampai kepada masyarakat sebagai bagian dari pembelajaran melalui dunia penyiaran. Menurut UU No 24 Tahun 1997, Pasal 11 (1) dan (2), dan (3) yang berbunyi:
(1) Lembaga Penyiaran Swasta adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya khusus menyelenggarakan siaran radio atau siaran televisi.
(2) Lembaga Penyiaran Swasta didirikan oleh warga negara atau badan hukum Indonesia yang tidak pernah dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan dalam kegiatan yang menentang Pancasila.
(3) Lembaga Penyiaran Swasta dilarang didirikan semata-mata hanya dikhususkan untuk menyiarkan mata acara tentang aliran politik, ideologi, agama, aliran tertentu, perseorangan, atau golongan tertentu.
Dalam Undang-undang ini pengertian penyiaran swasta berarti lembaga penyiaran yang mempunyai Badan Hukum Indonesia yang mempunyai usaha hanya dibidang penyiaran radio dan televisi. Setelah terbit UU No 32 Tahun 2002 pengertian tentang lembaga penyiaran ini pun mendapat perubahan pada Pasal 16 menerangkan
(1) Lembaga Penyiaran Swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf b adalah lembaga penyiaran yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau televisi.
(2) Warga negara asing dilarang menjadi pengurus Lembaga Penyiaran Swasta, kecuali untuk bidang keuangan dan bidang teknik.
Selanjutnya dalam hal permodalan dan saham diatur sebagaimana dalam UU No 24 Tahun 1997 Pasal 12:
(1) Lembaga Penyiaran Swasta didirikan dengan modal yang sepenuhnya dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum yang seluruh modal sahamnya dimiliki oleh warga negara Indonesia.
(2) Penambahan atau pemenuhan modal berikutnya bagi pengembangan Lembaga Penyiaran Swasta hanya dapat dilakukan oleh lembaga penyiaran yang bersangkutan setelah mendapat persetujuan Pemerintah. (3) Penambahan atau pemenuhan kebutuhan modal melalui pasar modal dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
Sedangkan UU No 32 Tahun 2002 Pasal 17 menerangkan sebagaimana berikut:
(1) Lembaga Penyiaran Swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) didirikan dengan modal awal yang seluruhnya dimiliki oleh warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia.
(2) Lembaga Penyiaran Swasta dapat melakukan penambahan dan pengembangan dalam rangka pemenuhan modal yang berasal dari modal asing, yang jumlahnya tidak lebih dari 20% (dua puluh per seratus) dari seluruh modal dan minimum dimiliki oleh 2 (dua) pemegang saham.
(3) Lembaga Penyiaran Swasta wajib memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memiliki saham perusahaan dan memberikan bagian laba perusahaan.
Jelas sekali perubahan yang terlihat dari dua undang-undang penyiaran ini, walau secara efek pasti ada positif dan negatif yang ditimbulkannya. Karena ini adalah urusan keuangan maka akan banyak hal-hal yang sensitif yang bisa berubah dalam berbagai aspek. Baik dari kebijakan perusahaan maupun dalam hal isi atau kebijakan penyiaran. Diakui atau tidak, dalam beberapa tahun terakhir apabila UU No 24 Tahun 1997 masih berlaku maka undang-undang penyiaran ini banyak yang dilanggar khususnya mengenai pengaturan dalam Pasal 11 ayat 3 yaitu ketika penyelenggaraan Pemilihan Umum pada tahun 2014 lalu.
Dari uraian diatas dapat diambil simpul bahwa lembaga penyiaran swasta adalah lembaga penyiaran yang bersifat komersial, berbadan hukum Indonesia dan hanya mempunyai usaha penyiaran radio dan televisi.
Hal yang paling mendasar dari perubahan kedua undang-undang ini adalah dalam hal pertanggungjawaban, dalam UU No 24 Tahun 1997 lembaga penyiaran ada dalam lingkup kementerian Departemen Penerangan yang bertanggung jawab kepada presiden, sedangkan dalam UU No 32 Tahun 2002 adanya Komisi Penyiaran Indonesia sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan kepenyiaran di seluruh Indonesia.
KESIMPULAN
Lembaga penyiaran yang ada sesungguhnya mempunyai tujuan yang sama menurut undang-undang yaitu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bahwa adanya sistem penyiaran supaya terciptanya tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam sebuah negara yang berdaulat diperlukan pengaturan yang jelas tentang berbagai hal, termasuk penyiaran. Hal ini diperlukan karena penyiaran sangat bersentuhan langsung dengan berbagai dinamika kehidupan dalam negara dan masyarakat. Semakin baik aturan penyiaran, semakin baik efek yang ditimbulkan dalam masyarakat. Akan tetapi apabila aturan penyiaran yang berlaku menunjukkan ketidakjelasan maka efek yang buruk akan terasa di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
DAFTAR PUSTAKA
Tebba, Sudirman. Hukum Media Massa Nasional. Pustaka Irvan. Jakarta. 2007
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Penyiaran
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran



[1] Sudirman Tebba. Hukum Media Massa Nasional. Pustaka Irvan. Jakarta. 2007. Hal. 81
[2] M. Alwi Dahlan. Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia. Kompas Media Nusantara. Jakarta. 2008. Hal 660


Minggu, 09 Juli 2017

JIKA “CINTA” ITU BENAR-BENAR BUTA

Sejenak ku tertegun mendengar lagu “If Love Is Blind”nya Tiffany, banyak yang terjadi dalam hidup ini kadang mewakili apa yang dirasakan banyak orang, walau dalam moment yang berbeda sama sekali. Hal ini terjadi dalam lingkungan tempat ku mengabdikan diri, Al Zaytun.
“People say that you're no good for me
People say it constantly
I hear it said so much I repeat it in my sleep”
Sebanyak dan sesering orang memberikan penilaian buruknya, sebanyak itu pula orang menjadi tergugah untuk membela, bahwa apa yang orang-orang bilang dengan ‘tidak baik bagiku, menurut orang’ itu adalah tidak benar. Walau kalimat buruk mereka menghantui banyak orang dalam tidur dan jaganya.
“But all that talk is cheap, When I'm alone with you”
Tiffany tahu persis, bahwa kalimat-kalimat yang merusak itu adalah kalimat murahan, karena apapun penilaian orang lain, berbeda dengan apa yang dirasakannya ketika sedang bersama dengan yang dicintainya.
“If love is blind
I'll find my way with you
Cause I can't see myself
Not in love with you
If love is blind
I'll find my way with you”
Begitulah cinta, deritanya tiada akhir, seloroh Kahlil Gibran. Orang Arab berkata
"Man yuhibbuka lan yatrukuka walau kunta syaukan baina yadaihi"
Artinya: “Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu sekalipun engkau menjadi duri yang menghadang di hadapannya".
(SN-DDG)

Senin, 26 Juni 2017

LEBARAN OH LEBARAN (Tradisi ‘Ied Al-Fithri ala Indonesia)

      Indonesia adalah negara dengan muslim terbesar di seluruh dunia. Dan juga suku bangsa yang tersebar di seluruh penjuru negeri yang tak kalah banyak. Muslim Indonesia adalah satu diantara banyak negara dengan tradisi kegamaan paling beragam diantara negara-negara Muslim lainnya.
    Diantara sekian banyak tradisi atau budaya yang paling terkenal adalah budaya “ngumpul” pada hari Raya ‘Ied Al Fithri atau biasa disebut dengan Lebaran. Tidak jelas dari mana asal-usul kata ‘Lebaran’ ini. Sebagian menganggap kata Lebaran ini berasal dari Bahasa Jawa ‘lebar’ (usai), Bahasa Madura ‘lober’ (tuntas), Bahasa Sunda ‘lebar’ (melimpah ruah atau kadang juga disebut ‘boboran’), atau Bahasa Betawi ‘lebar’ (luas dan dalam).
      Darimanapun asal-usulnya, kata Lebaran mengandung makna tuntas, komplit, atau usai. Tuntas menjalankan puasa selama sebulan penuh sehingga diharapkan hati dan pikiran umat Islam semakin luas, legowo, dan melimpah ‘ruah’ dengan pintu maaf. Itulah makna terpenting dari Lebaran. Kata Lebaran ini bukan hanya dipakai untuk Idul Fitri atau Idul Adha (Lebaran Haji) saja tetapi juga untuk Imlek yaitu untuk menandai tahun baru dalam sistem kalendar Tionghoa, sehingga sebutannya menjadi “Lebaran Cina”.
Menurut budayawan Umar Khayam, tradisi lebaran seperti yang kini lazim dipraktikkan oleh kaum Muslim di Jawa dan lainnya ini bermula sejak abad ke-15, yakni sejak diperkenalkan oleh Sunan Bonang, satu orang diantara anggota Wali Songo yang berjasa dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa (silakan simak studi Ahmad Sunyoto, Atlas Wali Songo). Sedang menurut MA Salamun,  kata lebaran berasal dari tradisi Hindu yang berarti Selesai, Usai, atau Habis. Menandakan habisnya masa puasa.
Ada banyak hal menarik yang terjadi pada penghujung bulan Romadhon ini, dari mudik lebaran sampai pada pada tradisi-tradisi ‘unik’ dari berbagai daerah dari Merauke sampai Sabang. Ada tradisi Meugang di Aceh (memasak dan makan bersama), bedulag di Bangka (Masak dan makan bersama), Perang Topat di Lombok (Saling lempar ketupat), Festival Tambilotohe di Gorontalo (memasang lampu yang dibuat dari getah pohon damar di tiga malam terakhir menjelang Lebaran) dan banyak lagi yang lainnya.
Ada juga tradisi-tradisi yang lain yang bisa kita lihat, mungkin juga ini bagian dari tradisi daerah kita yang ada di sekitar kita.
Malam Meriam Karbit di Pontianak

 Acara ini diadakan di tepian Sungai Kapuas dan sudah menjadi tradisi sejak ratusan tahun yang lalu, dentuman meriam yang seirama menjadikan malam takbiran di kota pontianak menjadi gegap gempita.  Meriam ini terbuat dari pohon kelapa atau kayu durian. Jadinya sebuah meriam yang panjang dengan silinder yang lebar. Tak lupa rotan digunakan sebagai pengikat meriam.

Bakar Gunung Api di Bengkulu

 Tradisi yang dilakukan untuk menyambut hari raya Lebaran ini dilakukan oleh Suku Serawai. Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun yang sudah dilakukan beratus tahun. Saat malam takbiran, masyarakat akan menyusun batok kelapa yang disusun layaknya tusuk sate. Batok kelapa kemudian dibakar, sebagai simbol dari ucapan syukur kepada Tuhan dan juga doa untuk arwah keluarga.

Grebeg Syawal di Yogyakarta
 Upacara perayaan ini biasanya tak luput dari pemberitaan di media televisi. Acara tersebut merupakan ritual Keraton Yogyakarta yang rutin dilakukan pada Satu Syawal.  Upacara tersebut diawali dengan keluarnya Gunungan Lanang yaitu tumpukan dari sayur-sayuran dan hasil bumi lainnya  dan dibawa ke Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan. Gunungan tersebut dikawal oleh prajurit keraton. Puncaknya, masyarakat akan memperebutkan hasil bumi di Gunung Lanang yang dipercaya membawa keberuntungan bagi mereka.

Ngejot di Bali
 Keindahan toleransi antar masyarakat juga ada di Bali. Nyama Selam yang artinya saudara dari kalangan Muslim, merupakan sebutan khas penduduk Bali yang mayoritas Hindu kepada kerabat sekampung yang beragama Islam. Tradisi yang dilakukan adalah ngejot, yaitu umat Muslim yang merayakan Lebaran memberi hidangan pada tetangga tanpa peduli latar belakang agama. Sebagai balasan, umumnya umat Hindu akan memberi makanan pada tetangganya di Hari Raya Nyepi atau Galungan.
Binarundak di Sulawesi Utara
 Makan nasi jaha beramai-ramai dilakukan oleh masyarakat di Motoboi Besar. Bersama-sama mereka membuat nasi jaha yang terbuat dari beras ketan, santan, dan jahe yang kemudian dimasukan bambu berlapis daun pisang, dan dibakar dengan sabut kelapa. Aktivitas membakar bambu tersebut dilakukan di jalan atau lapangan, selesai dibakar seluruh masyarakat makan bersama sambil bersilaturahmi.
  
Tradisi Pukul Sapu di Maluku Tengah
 Warga Desa Morella dan Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah selalu berkumpul di halaman Masjid Besar pada hari ketujuh Lebaran. Mereka ingin menyaksikan tradisi Pukul Sapu yang biasanya dilakukan perwakilan kelompok pria dari masing-masing desa Mereka akan saling menyabetkan lidi enau ke badan lawan. Berlangsung selama sekitar 30 menit, sabetan-sabetan lidi itu pun bisa mengakibatkan sobek dan luka berdarah pada kulit. Tradisi tersebut  telah berlangsung dari abad XVII yang diciptakan seorang tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuni. Tradisi ini dipertunjukkan sebagai perayaan keberhasilan pembangunan masjid yang selesai dibangun pada 7 syawal setelah Idul Fitri.

Tradisi Batobo di Riau
 Lebaran identik dengan mudik. Maka dari itu warga Kampar, Riau, punya tradisi Batobo yang masih dilestarikan hingga sekarang. Saat ada rombongan perantau  yang datang ke kampung halaman, akan dilakukan upacara penyambutan dengan cara mengarak pemudik menggunakan rebana menuju tempat buka puasa bersama. Setelah usai acara Batobo, akan dilanjutkan dengan pengajian dan lomba baca Al-qur’an saat malam hari. Acara ini adalah ajang melepas rindu dan momen mempererat silaturahmi dengan keluarga dan tetangga.

            Bangsa ini bernama Indonesia adalah takdir Tuhan, dengan beragam suku, budaya, tradisi, dan ribuan pulau yang bertebaran diseluruh wilayah geografi Indonesia adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Dengan takdir Tuhan pula bangsa ini mempunya persatuan yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain di bumi ini.
            Taqobalallaahu minna waminkum taqobbal yaa Kariim. Mohon Maaf lahir dan bathin, Selamat Hari raya Idhul Fitri 1438 H. (SN-DDG)

Sumber:


http://pustamun.blogspot.com/2016/06/arti-dan-asal-usul-kata-lebaran-dalam.html
https://www.mezora.co.id/blogs/news/tradisi-tradisi-unik-rayakan-lebaran-di-indonesia

Selasa, 13 Juni 2017

SAATNYA BICARA DI MEDIA SOSIAL (Dalam Komunikasi Dakwah Persuasi-Meluruskan yang Salah)

Oleh:
Imang Maulana, S.Sos.I, M.M
(Dosen KPI-UIN Jakarta, Dosen IAI AL AZIS, Indramayu).

“Hoax” Sistematika Kerja Iblis yang Berhasil (Puisi)

Ketika “Hoax” menjadi tuhannya manusia durjana?
dunia tenggelam dicelah kerucut keningnya,
ketika sang buzzer “Hoax” menulisnya di media sosial,
dibaca oleh puluhan, ratusan dan jutaan manusia,
perbuatan itu sudah masuk “Ghiba” dan “Fitnah”,
ketika “Ghiba” dan “Fitnah”telah menjadi tujuan manusia,
si buzzer pembuat hoax seakan tak merasa berdosa,
ketika dosa tak lagi dianggap oleh manusia,
dunia menjadi ramai, penuh gejolak batin, sedih, dan berduka,
yang ada hanyalah ekspresi jiwa tak berdaya,
ketika jiwa tak lagi berdaya,
yang ada hanya jiwa-jiwa “Syaithaniyah”dan “Hewaniyah”
ketika nafsu “Syaithaniyah” dan “Hewaniyah” merasuk sukma para buzzer,
dia diperbudak oleh nafsu ankara murka,
ketika nafsu ankara murka manusia telah hilang jati-dirinya,
karena telah ikut berkonspirasi dengan Syetan,
menjadikan dirinya sombong, merasa paling benar, suci, dan rakus,
ketika kerakusan merasuki nafsu dan alam pikiran manusia,
yang ada adalah tragedi dunia; peperangan, dan“politik bumi hangus”,
memangsa manusia atas manusia,
“exploatation the lhomme for lhomme”
menghalalkan segala cara ala “Machiavellis”,
jadilah dirinya menjadi penguasa dunia yang zalim,
ala Hitler, Stalin, Lenin, Soekarno dan Soeharto,
karena kediktatorannya dalam pemerintahannya yang ekspressif,
karena menyatu dengan hipokrit dan rakus akan kekuasaan,
rakus bagai tikus, kecoa dan srigala,
yang tak mau tahu, tak mau peduli,
tak mau kompromi dengan lawan politiknya atau yang membangkang,
baginya yang penting “kenyang,“uang”, dan “berkuasa”,
jadilah ia pemimpin tak “bernurani”, condong memperturutkan “hawa nafsu”,
menuju derajat paling rendah, lebih hina dari binatang,
nalar dan nuraninya tak lagi berfungsi dengan baik,
“Manusia Fii Ahsani Taqwiim”,
menjadi barang langka dalam dunia modern saat ini,
“Allah Maha Pencipta dan Allah Maha Besar”,
tak lagi diingatnya, ditinggal hingga kematian merenggut dirinya,
dunia, fatamorgana kehidupan yang palsu,
banyak manusia mengikuti konsep Iblis dengan segala mekanismenya,
mari bersatu melawan “Hoax” dan para buzzer pengikut Syetan,
Ayo kita lawan Hoax dengan Menulis di Media Sosial.



PENDAHULUAN


Seberkas cahaya dalam fitrahnya sebagai manusia saleh/ah, adalah bukti manifestasi diri seorang hamba pada Khaliq-Nya dalam membentuk derajat keimanan dan ketaqwaan dirinya pada Tuhannya Manusia. Dialah Allah SWT. Atas nikmat dan Karunia-Nya, patut kita syukuri selalu sebagai hamba Allah yang dhaif dalam segala-galanya. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Salawat serta salam, kita tujukan kepada Rasul Al-Amin, Rasulullah Muhammad SAW. beserta Keluarga dan Sahabat-Sahabatnya yang setia. Karena dari ajarannya, kita dapat melanjutkan estafeta perjuangan dakwahnya mereka sampai akhir masa hidup kita, dan sampai kiamat tiba. Semoga kita dapat menjalani derap langkah dakwah kita menjadi umat penengah, pemersatu dan pemberi kabar gembira, sekaligus pemberi peringatan, dari firman-Nya dan sunnah Nabi-Nya, atas segala perbuatan manusia di dunia yang fana ini, Insya Allah, Amin.

A. Berita Bohong (Hoax), Ekses Negatif dari Kemajuan Teknologi Informatika

Di abad Millenium ke-3 ini, kita berhadapan dengan dunia digital. Era digitalisasi ini membuat mata manusia memandang hidupnya dengan cara-cara yang elegant dan serba materi. Sehingga, berdampak negatif bagi tatanan sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan masyarakat, bangsa dan negara NKRI saat ini menjadi “tranding topic” media sosial, media cetak, media audio visual, media streaming. Dengan adanya berita bohong di media sosial (medsos) akhir-akhir ini. Sebagai umat Islam yang mayoritas, kita tentunya harus memiliki sikap yang jelas, bahkan kita harus melawan memerangi para buzzer dan hackers-hackers lokal, nasional, dan internasional (baca, asing), yang tujuannya adalah untuk memecah belah tali persatuan dan kesatuan Indonesia (NKRI).
Karenanya, Islam Rahmatan Lil’alamin telah memberikan garis tuntunan yang harmonis sejuk dan menyejukkan, namun jelas dan tegas terhadap siapa-siapa yang merongrong kewibawaan ajaran Islam di bumi Indonesia yang sama-sama kita cintai. Di antara sikap kita sebagai Muslim/at dengan:
1. Taqarrub Ilallah (mendekatkan diri pada Sang Khaliq) secara kontinuitas, secara ikhlas dan mengharap ridha-Nya.
2. Merefleksikannya secara aplikatif dengan amal ilmiah dan ilmu amaliah untuk kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia serta umat manusia sedunia.
3. Menjaga harmonisasi kehidupan, baik keluarga, antar individu, dan antar sesama manusia, bahkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya, seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, pelestarian lingkungan, guna keutuhan dan keseimbangan (equilibirium) alam itu sendiri, yang memiliki kontribusi besar bagi kehidupan umat manusia itu sendiri serta makhluk ciptaan Allah lainnya.
4. Tidak merusak alam ciptaan Tuhan. Karena bila hal ini dilanggar, maka akan terjadi tidak adanya titik keseimbangan (disequilibirium) alam, yang mengakibatkan kehancuran bagi umat manusia sendiri dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya (kiamat). Surat Ar-Rum (30): 41.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, Allah menghendaki agar merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

5. Kembali pada fitrah kemanusiaannya; Surat Ar-Rum (30): 30.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Berkenaan dengan era digital, manusia dipacu dengan mobilitas tinggi, menggunakan alat-alat yang serba canggih, dan berkompetisi di era globalisasi dalam segala bidang kehidupan. Bila hal demikian tidak diimbangi dengan filter (penyaring) keimanan dan kepercayaan pada Sang Khaliq dan Rasul-Nya, maka manusia semakin jauh dari Allah dan Rasul-Nya. Agama, cuma menjadi perhiasan dunia, sebaliknya, teknologi serba canggih seperti komputer, handphone, internet, facebook, twitter, intagram, gadgad, medsos, dan media online, sehingga alat-alat tersebut dijadikan sebagai tuhan dunia.Astaghfirullahal’azhim.
Salah satu dampak negatif majunya ilmu pengetahuan dan teknologi informatika, masyarakat modern dihadapakan pada suatu relaitas serba semu. Semua dilayani melalui mesin, robotisasi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sehingga, masyarakat mengalami “culture shock”, salah satunya adalah hilangnya rasa malu, karena nilai-nilai ketimuran, karena masuknya nilai-nilai baru dari masyarakat Barat.Maka terjadilah apa yang dinamakan “krisis keimanan yang mengakibatkan dekadensi moral di kalangan remaja dan orang dewasa”, dan menjadi massif adanya.
Kita sadar, bahwa saat ini, hampir setiap hari masyarakat Indonesia disuguhi berbagai berita yang memilukan hati berita dan informasi televisi dan media cetak. Lebih-lebih bagi kalangan generasi muda, sebagai pilar-pilar pembangunan, justru telah banyak yang menjadi korban akibat “culture shock” tersebut. Beberapa indikasi korban yang menimpa generasi muda kita adalah dengan menjadi korban Narkoba-Psikotropika, HIV/AIDS, akibat penggunaan dan perdagangan “Sex on line”, sehingga para anak-anak dibawah umur, remaja dan pemuda dan orang dewasa pernah dan sering melakukan “Free Sex” dengan bebas, tanpa control masyarakat, aparat, dan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Bahkan, baru-baru ini sepasang suami-istri (pasturi), tidak malu-malunya dna berterus terang melakukan praktik prostitusi dengan video dan disebarkan ke media sosial, facebook, dan media streaming lainnya yang diakses oleh para buzzer dan pengguna akun tersebut.
Sehingga, negeri ini menjadi negeri “pesakitan”, kita menjulukinya. Apakah mampu melakukan gerakan “Revolusi Mental” yang sudah sedemikian parahnya bangsa ini? Di tangan merekalah panji-panji Islam kita harapkan di masa depan. Namun, realitasnya, kini kita agak pesimistis dengan pola pikir, pola tindak, dan pola pergaulan mereka yang kian tak terbatas, dari norma-norma susila, agama, budaya bangsanya sendiri.
Dan, negeri yang mayoritas Muslim terbesar di dunia ini, dalam perjalannya setelah menikmati Kemerdekaan RI menjelang (ke-72 Tahun) dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo tampak masih mengalami ujian demi ujian yang berat, terutama dalam menghadapi masyarakat berkemajuan dan ketertinggalan dalam bidang ilmu dan teknologi serta penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dalam kebhinnekaan dalam wadah NKRI. Dan yang menjadi “tranding topic” berita hangat di media massa cetak dan elektronika serta media streaming seperti media sosial ini adalah tentang ‘berita bohong/palsu’ (hoax) dari para ‘buzzer team’ maupun individu yang sengaja di rencanakan untuk hal-hal seperti:
1. Menyebar berita palsu (hoax) secara meyakinkan.
2. Memfitnah berdasarkan kebencian pada seseorang, kelompok, golongan, partai politik yang berbeda (pertarungan Pilpres/Pilgub/Bupati/Walikota).
3. Berbuat Hasad, Dusta, dan Namimah.
4. Membuka aib saudaranya seiman dan seakidah (ghibah).
5. Memecah belah umat Islam.
6. Mengadu domba antar sesama umat yang berlainan agama, suku, ras, dan keyakinan ideologi.
7. Mengganggu jalannya pemerintahan yang sah dan demokratis.
8. Mencari keuntungan sesaat dan sepihak untuk kepentingan golongannya saja.
9. Memang memiliki jiwa yang kerdil, menjadi alat negara asing (spionase) untuk menghancurkan NKRI agar berpecah belah dalam jangka waktu singkat.
10. Mengikuti langkah atau konsep dan sistematika cara kerja Iblis/Syetan dalam menggoda manusia dengan praktik-praktik ilegal dalam hal sebagaimana disebutkan di muka.
Bagi ajaran Islam yang indah akan ajarannya, telah menuntun umatnya, apabila mendapat kabar/berita dari orang fasiq atau dari seseorang yang tidak jelas keberadaannya, haruslah disikapi dengan tabayyun (melakukan check and recheck) terlebih dahulu. Sumbernya dari mana? Siapa yang mengirimkan berita itu? Apakah dari golongan sesama umat Islam? Atau dari orang-orang yang non Muslim, agar jelas status berita tersebut dan tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari. Sebagaimana Firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah berita itu dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum (tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S.Al-Hujurat: 6).
B. Berita Bohong (hoax) Ekses Negatif Penerimaan Informasi yang Salah

Dengan hadirnya internet bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad millenium ketiga ini oleh para perintisnya tujuannya adalah untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban dunia. Masyarakat yang beradab dan maju, adalah masyarakat yang telah maju dibidang ilmu pengetahuan dan teknologinya secara merata. Termasuk juga dalam dunia pendidikan, dengan banyaknya perpustakaan yang berkelas dunia, serta bisnis media bagi dunia usaha elektronika dengan menggunakan akses komputer, telephone seluler seperti Handphone (HP) atau Internet menembus dunia maya. Last but not least, terakhir dan terpenting adalah tidak menjadi ‘gatek’ (gagap teknologi) bagi masyarakat dunia secara positif, khususnya rakyat Indonesia.
Bukan sebaliknya, realitas yang ada di dunia maya, justru membawa perpecahan, sentimentil dan rasa kebencian yang mendalam, sehingga para buzzer melakukan praktik keji dan tidak sportif dengan menyebarkan fitnah melalui berita atau informasi palsu/ bohong (Hoax) dari instagram, twitter, facebook, WhatsApp, gadgad mereka para ‘buzzer’, di media sosial (medsos), media streaming melalui saluran internet individu maupun team.
Para buzzer itu menjadi musuh bersama, untuk kita lawan. Karena mereka para buzzer, telah menyebar issue negatif alias palsu/bohong sekaligus fitnah (pemecah belah) umat dan bangsa Indonesia, dan pada akhirnya menjadi ‘tranding topic’ dunia maya dan di media cetak, media sosial, media streaming atau media on line melalui akses facebook, twitter dan WA (WhatsApp) kita juga.
Persoalan hoax menjadi keprihatinan bersama, termasuk Presiden RI Joko Widodo yang memberikan kritik terhadap maraknya berita bohong yang tersebar melalui media, khususnya media sosial (medsos) yang menimbulkan keresahan masyarakat. Dan kita akui, fenomena hoax, sangat mengancam kerukunan antar umat beragama, keharmonisan keluarga dan masyarakat cinta damai, dan kebhinnekaan yang dimiliki bangsa kita.
Persoalan hoax, telah banyak menguras tenaga dan pikiran kita. Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45 ayat (2) mengancam maksimal enam tahun penjara dan atau denda maksimal Rp 1 miliar. Pasal 28 ayat (2) berkaitan dengan masalah penyebarluasan yang menimbulkan rasa kebencian dan berkaitan dengan masalah SARA (suku, agama, ras, antargolongan). Kemudian, bagi kita untuk diketahui adalah tentang unsur-unsur yang masuk dalam pidana pada Undang-Undang ITE itu adalah unsur kesengajaan dan tanpa hak, unsur mendistribusikan, mentransmisikan, membuat dapat diaksesnya informasi dan/atau dokumen elektronik dan unsur memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
Kemudian dasar hukum penanganan hoax ada pada pasal 310 ayat (1) KUHP.Meski tidak secara spesifik dinyatakan berita hoax, pasal ini mengatur terkait pencemaran nama baik atau penghinaan. Perbuatan itu dapat dipidana jika dilakukan dengan cara menuduh seseorang telah melakukan perbuatan tertentu yang maksud tuduhan itu akan tersiar (diketahui orang banyak).Kemudian cara penyebaran penghinaan ini berdasarkan KUHP ada secara lisan dan tulisan (Koran SINDO, Senin 20 Februari 2017).
Rasulullah SAW seorang pembawa berita gembira untuk umatnya, kita sebagai seorang Muslim, selayaknya untuk mengikuti jejak langkah risalah beliau. Firman Allah dalam al-Qur’an surat Al-Ahzab (33): 47 :
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikanlah berita dan jangan sampai kalian membuat antipati, permudahlah, jangan sampai kalian mempersulit.”

Jelaslah dari dua sumber ayat dan hadits di atas, agar seorang da’i atau muballigh/ah, menjalankan tugas sucinya hanya mengajak, menyeru, memberi kabar gembira, dan peringatan pada saudaranya sesama mukmin dan muslim ke jalan Allah dan Rasul-Nya. Tentunya dengan metoda yang baik (bil hikmah dan mau’izhah), yang sejuk dan menyejukkan hati umatnya, tidak dengan kekerasan atau memaksakan kehendak, apalagi sampai melalukan anarkhis, tidak menjaga akhlakul karimah, memfitnah dan memberi kabar berita bohong/palsu (hoax), yang merupakan sistematika kerjanya Syetan laknatullah pada manusia durjana (buzzer hoax maupun buzzer politik dan buzzer oportunistic), dengan sengaja mengail di air keruh di meja makan atau ruang rehatnya, dan atau meja rapat-rapat politik partainya. Bukankah ini kezaliman yang nyata?
Karenanya kita selaku umat Islam sangat setuju, apabila telah diketahui sarang situs on line-nya para buzzer melalui media sosial dan internet, agar segera di proses ke ranah hukum dengan seberat-beratnya dengan memakai UU ITE agar mempunyai efek jera, sama seperti halnya para pelaku pembunuhan berencana, koruptor yang mengorupsi uang rakyat puluhan, belasan, ratusan miliar, dan bahkan triliunan rupiah, yang jelas-jelas menguras keuangan negara (RI) untuk kepentingan pembangunan, pendidikan, infra struktur dan suprastruktur pemerintah pusat dan daerah, serta pelatihan bela negara, dan peningkatan Sumber Daya Manusia Indonesia. Sesuai harapan atau target the Millennium Development Goals (MDGs) di Indonesia yang sederajat dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Belum maksimalnya penegakan hukum tentang hoax dari kepolisian, kita maklumi, mengingat sumber daya manusia di Kepolisian kita belum juga bisa berbuat banyak untuk menelusuri situs-situs para buzzer tersebut, karena mereka sangat banyak jumlahnya, sementara polisi kita tidak banyak jumlah. Demikian Ruby Alamsyah, Pakar teknologi Informasi (TI) mengatakan pada Koran SINDO, Senin 27 Februari 2017.
Dari hasil penelitian Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel), telah merilis hasil survei tentang wabah berita bohong (hoax) nasional pada 13 Februari 2017. Hasilnya, hampir mayoritas masyarakat menyatakan sangat terganggu atas keberadaan hoax.
Dalam rilisnya Mastel memberi judul MELAWAN BERITA BOHONG, yakni:
 BENTUK DAN SALURAN HOAX, antara lain:
1. Bentuk hoax yang paling sering diterima ?
Tulisan = 62,10 %
Gambar = 37,50 %
Video = 0,40 %
2. Saluran penyebaran berita hoax ?
Radio = 1,20 %
Surel = 3,10 %
Media cetak = 5 %
Televisi = 8,70 %
Situs Web = 34, 90 %
Chatting = 62,80 %
Sosmed = 92,40 %
3. Seberapa sering menerima berita hoax?
Setiap hari = 44, 30 %
+ 1 kali Sehari = 44,30 %
Seminggu sekali = 29,80 %
Satu Bulan Sekali = 8,70 %
 DAMPAK HOAX
1. Seberapa parah berita hoax mengganggu ?
Hampir seluruh responden menyatakan terganggu dengan maraknya Berita Hoax (84%)
Sangat mengganggu = 43,50 %
Mengganggu = 41%
Tidak Menggganggu = 15, 40 %
2. Benarkah hoax menggenaggu kerukunan masyarakat?
Sangat Setuju = 70,60 %
Setuju = 22,80 %
Tidak Setuju = 1,30 %
3. Setujukah hoax dapat menghambat pembangunan?
Sangat Setuju = 70,20 %
Setuju = 26,60 %
Tidak Setuju = 3,20 %
 JENIS HOAX YANG SERING DITERIMA (Produk Iblis Laknatullah yang Digemari Manusia).
Lalu lintas = 4 %
Bencana Alam = 10,30 %
Candaan = 17,60 %
Berita Duka = 18,80 %
Iptek = 23,70 %
Penipuan Keuangan = 24,50 %
Makanan dan Minuman = 32,0 %
Kesehatan = 41,20 %
SARA = 88,60 %
Sosial-Politik (Pilkada dan Pemerintahan) = 91,80 %.

Dari apa yang telah penulis paparkan dalam tulisan ini, bagi kita para pemangku mata kuliah Komunikasi dan Penyiaran Islam sangat urgent tentunya. Urgensitas permasalahan dan penanganan kasus berita bohong (hoax) di atas, paling tidak dapat kita ambil hikmahnya sekaligus menarik benang merah dari kejadian demi kejadian yang melanda masyarakat Muslim Indonesia di era moderen dan era transformasi budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita tidak bisa membendung derasnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, sama derasnya situs-situs on line yang memasuki dunia melalui media sosial.
Menurut sumber yang dapat dipercaya (dari Kepolisian RI, Cyber Crime Diskrimsus Polda Metro Jaya dan Pakar IT) jumlahnya sudah di atas 100 juta pengguna, yang mau tidak mau harus kita terima dengan filter (saring) akan kedatangan informasi-informasi tersebut. Dari mana sumbernya, apakah berdampak positif atau negatif? Kemudian dari siapa sumber tersebut, dapatkah dipercaya dan diketahui nama situs on line-nya? Tidak serta merta ditelan atau diterima informasi tersebut tanpa reserve, kemudian kita share ke teman (group) atau kepada siapa saja yang membuka facebook, twitter, instagram, gadgad, media sosial (medsos), dan lain-lain.
Realitas masyarakat moderen (terutama rakyat Indonesia) yang menggunakan lebih dari 100 juta pengguna sebagaimana sumber di atas, kemungkinan ada yang belum siap atau siap tetapi dipaksakan oleh dirinya dikarenakan tuntutan zaman dalam kehidupan sehari-hari, agar dapat berkomunikasi secara instan, cepat, singkat, tepat sasaran dan tak berjarak, sehingga apa yang terjadi? Mereka banyak yang mengalami stressing berat alias ‘galau’, dalam istilah ilmu “patalogi sosial”, sering disebut mengalami ekspresi dari kekalutan mental (mental disorder).
Penampilan dari mental disorder itu biasanya berupa gejala-gejala sebagai berikut.
1. Banyak konflik batin. Ada rasa tersobek-sobek oleh pikiran pikiran dan emosi yang antagonistis bertentangan. Hilangnya harga-diri dan kepercayaan-diri. Orangnya merasa tidak aman, dan selalu terburu-buru oleh suatu pikiran atau perasaan yang tidak jelas, hingga ia merasa cemas dan takut. Dia lalu menjadi agresif, suka menyerang, bahkan ada yang berusaha bunuh-diri (agresivitas ke dalam).
2. Komunikasi sosialnya terputus, dan ada disorientasi sosial. Timbul kemudian delusi-delusi yang menakutkan atau dihinggapi delusi of grandeur (merasa dirinya super, paling). Selalu iri hati dan curiga. Adakalanya dihinggapi delusion of persecution atau khayalan dikejar-kejar. Sehingga dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan pengerusakan atau melakukan destruksi diri dan bunuh diri.
Ada pasien yang menjadi hyperaktif , sehingga mengganggu sekitarnya, bahkan bisa berbahaya bagi lingkungannya. Pasien lain menjadi catatonic, yaitu kaku membeku; dikombinasikan dengan membisu, dan stupor (separuh sadar, membeku tanpa penginderaan), sampai menjadi heberfrenic .
3. Ada gangguan intelektual dan gangguan emosional yang serius. Penderita mengalami ilusi-ilusi optis , halusinasi-halusinasi berat dan delusi.
Juga Affek dan emosi-emosinya tidak tepat, selalu mereaksi berlebih-lebihan (overreacting) atau underreacting, kurang mereaksi. Berusaha selalu melarikan diri dalam dunia fantasi, yaitu dalam pseudo-community atau masyarakat semu yang diciptakan dalam khayalan. Dia merasa aman dalam dunia fantasinya. Orang luar dihukum dan dihindari, sebab mereka dianggap “berdosa, kotor dan jahat”. Maka realitas sosial yang dihayati menjadi kacau-balau. Juga kehidupan batinnya menjadi kalut-kusut dan kepribadiannya pecah berantakan.
Dari ketiga hal di atas, penulis dapat menyimpulkan, bahwa manusia modern yang gaptek maupun yang pandai atau “super geniun”, tengah dihinggapi “penyakit hati”. Sehingga, hati dan jiwa serta alam pikirannya terkerangkeng oleh keinginan-keinginan yang tak tersampaikan, hingga yang timbul adalah “kecewa”, dan mereka tampak tidak bisa terima kenyataan hidup seperti itu. Karena apa yang dia inginkan, tidak akan mungkin dapat semua, dan itu Sunatullah yang sudah berlaku berabad-abad lamanya, sejak Nabi Adam dan Siti Hawa, hingga masyarakat modern sekarang ini, hidup di zaman transformasi budaya serta pesatnya sumber informasi-informasi.
Menurut Alvin Toffler, menyatakan bahwa abad ke-21 sangat dipengaruhi oleh pola hidupnya oleh arus informasi, karena abad ke-21 memang abad informasi. Alat kekuasaan yang paling efektif di masa mendatang adalah informasi. Bangsa mana yang menguasai arus informasi/jaringan komunikasi maka dialah yang akan menguasai dunia .
Dunia, diidolakan atau didewakan oleh manusia modern, karena kecanggihan alat-alat informasi dan komunikasi serta kemilaunya harta benda manusia modern membuat dunia fatamorgana kehidupan yang palsu itu semakin dikejar dan kejar oleh banyak manusia di seluruh muka bumi.
Sehingga, agama Islam lewat ajarannya yang memberi solusi dan terapi dengan manusia modern merujuk pada Allah SWT (farudhdhu ilallah) dengan membuka firman-firman-Nya itu justru tak mau atau enggan untuk menerimanya.Bahkan memperolok-olokkan serta menistakan ayat-ayat Al-Qur’an oleh mereka yang sok kaya, sok berkuasa sesaat itu. Padahal ajal setiap saat akan menjemput dirinya di mana saja mereka berada, tak mengenal batasan usia dan status sosial mereka. Kalau sudah waktunya, maka Malaikat “Izrail Sang Penyabut Nyawa manusia siap melakukan amanah Rabb-Nya. Sebagaimana dua firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun (23): 15:

.“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati”.
Dan surat Ali-Imran (3):185.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Jadi, kesenangan dunia yang sesaat itu seringkali meperdayakan kita khilaf, lupa dan melupakannya Allah dan Rasul-Nya. Sehingga, tiba saatnya pada kematian dengan konsekuensinya yang ia tanggung kelak saat; Ajal Menjemput (Sakaratul Maut), kemudian di Liang Kubur, kemudian di Padang Mahsyar dan Titian Shirathal Mustaqim.
Dan inilah sebagian besar penyakit-penyakit manusia modern saat ini, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Kitab Suci Al-Quran untuk dijadikan ibrah dan pelajaran atau renungan menatap masa depan (kampung akhirat kelak).
Inilah ayat-ayat Allah yang patut kiranya untuk kita renungkan:
1. Hati yang Takut, terdapat dalam Surat al-Mu’min (23): 60:
2. Hati yang Kosong terdapat dalam surat Ibrahim (14): 43 dan surat al-Qashash (28): 10
3. Hati yang Tergoncang, dalam surat An-Nur (24): 37,
4. Hati yang Tersumbat, terdapat dalam surat al-Baqarah (2): 88
5. Hati yang Sangat Takut, terdapat dalam surat An-Nazi’at (79): 8
6. Hati yang Sesak, terdapat dalam surat al-Mu’min (40): 18
7. Penyakit Hati yang pertama merupakan “lemahnya keyakinan”, dan kedua mengandung arti penyakit “kenakalan”. Terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (2): 10, dan surat al-Ahzab (33): 32.

Modernisasi dan globalisasi di satu sisi membawabanyak manfaat bagi kehidupan manusia, tetapi di sisi lain, bagi masyarakat yang secara psikologis belum siap menghadapi perubahan, modernisasi dapat menciptakan kesulitan psikologis, sehingga muncul istilah dari seorang Psikolog Humanis terkenal, Rollo Mai, yang menyebut “Kerangkeng Manusia Modern”, yakni manusia atau masyarakat yang justru terperangkap dalam jebakan limbah modernisasi tanpa memperoleh substansinya. Manusia modern dalam kerangkeng itu sebenarnya adalah manusia yang sudah kehilangan makna, manusia kosong, The Hollow Man. Ia resah setiap kali harus mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yang diinginkan, dan tidak mampu memilih jalan hidup yang diinginkan. Para sosiolog menyebutnya sebagai gejala keterasingan alienasi, yang disebabkan oleh:
1. Perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat,
2. Hubungan hangat amtar manusia sudah berubah menjadi hubungan yang gersang,
3. Lembaga tradisional sudah berubah menjadi lembaga rational,
4. Masyarakat yang homogen sudah berubah menjadi heterogen, dan
5. Stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas sosial.

Masyarakat modern digambarkan pula bagaikan orang yang telah lama terkurung dalam kerangkeng, manusia modern menderita frustasi dan berada dalam ketidakberdayaan, powerlessness. Ia tidak mampu lagi merencanakan masa depan, ia pasrah kepada nasib karena merasa tidak berdaya apa-apa. Kerangkeng lain yang tidak kalah kuatnya adalah kehidupan sosial. Manusia modern dikerangkeng oleh tuntutan sosial. Mereka merasa sangat terikat untuk mengikuti skenario sosial yang menentukan berbagai kriteria dan mengatur berbagai keharusan dalam kehidupan sosial.
Manusia modern merasa sedang bertujuan keras untuk memenuhi keinginannya, padahal yang sebenarnya mereka diperbudak oleh keinginan orang lain, oleh keinginan sosial. Ia sebenarnya sedang mengejar apa yang diharapkan oleh orang lain agar ia dapat mengejarnya.
Masyarakat modern sebagai telah banyak yang menggambarkan, terutama para pakar komunikasi, psikologi, sosiologi, dan patologi sosial, bahwa kaum kaya dan masyarakat marjinal berada dalam posisi berhadapan (jurang antara si kaya dengan si miskin) sangat menyolok mata. Karenanya, dikhawatirkan oleh semua pakar tersebut adalah akan terjadinya revolusi sosial umat manusia, dan bagi penguasa dunia yang berada dalam tampuk kekuasaannya, akan merasa ketakutan rasanya. Karena, satu saat pemerintahannya akan digulingkan oleh kekuatan people power, sebagaimana yang telah terjadi di banyak negara Asia, Eropa, Afrika, Amerika Tengah, Amerika Utara dan bahkan Indonesia, Myanmar, Thailand, Korena dan sebagainya.
Gejala yang umum diidap oleh penghuni “kerangkeng manusia modern” adalah kecemasan, kesepian, kobosanan, perilaku menyimpang dan psikosomatis. Gejala gangguan kejiwaan semacam ini bukan hanya mengganggu yang bersangkutan, tetapi dapat meningkat eskaliasinya menjadi gangguan sosial, bukan hanya menimpa kaum “abangan” tetapi juga kaum muslimin yang santri. Demikian Achmad Mubarok dalam bukunya (Psikologi Dakwah: 2001).

C. Sebab-Sebab Timbulnya Mental Disorder
Ada tiga faktor menurut ilmu patalogi sosial yang menyebabkan timbulnya kekalutan mental, yaitu:
intrapsikis
psikologis

naturalis behavioralistis
organis

demonologis

1. Predisposisi struktur biologis/jasmani dan mental atau kepribadian yang lemah;
2. Konflik-konflik sosial dan konflik-konflik kultural yang mempengaruhi diri manusia;
3. Pemasakan batin (internalisasi) dari pengalaman yang keliru yaitu pencernaan pengalaman oleh diri si subjek yang salah.

Kita mengetahui, bahwa sepanjang sejarah kehidupan manusia itu selalu terdapat konflik; baik konflik terbuka antar-manusia, maupun konflik batin dalam diri sendiri. Biasanya keduanya bisa diselesaikan oleh individu sendiri, tanpa ikut campurnya orang luar juga tanpa menimbulkan ekses gangguan jiwa. Akan tetapi, adakalanya persaiangan dan konflik-konflik itu berlangsung sangat tidak sehat dan terus menerus, sehingga menjadi kronis dan sangat mengganggu ketegangan jiwa, lalu menyebabkan timbulnya kekalutan mental yang terpendam dan tertutup, sifatnya sangat serius dan membahayakan kesehatan jiwa penderitanya.
Selanjutnya masih dari Kartini, dalam Patologi Sosial (2011:284-285), beliau membagi kekalutan mental (mental disorder) banyak terdapat di kalangan:
1. Di kota-kota besar lebih banyak tersebar penderita mental disorder dari di desa-desa. Di kota-kota banyak orang yang merasa bingung, ditolak oleh masyarakat atau merasa terancam oleh macam-macam bahaya. Timbullah rasa anomi (tidak dikenal), kesunyian, cemas dan takut, dikejar-kejar, dan lain-lain. Sehingga muncul disorganisasi diri, diasosiasi dan disintegrasi diri.
2. Jumlah penderita kekalutan mental paling banyak terdapat di kalangan orang-orang dewasa dan tua usia. Jelaslah, bahwa faktor-faktor sosial dan kultural adalah penyebab utama dari kekalutan mental dan penyakitnya. Munculnya perasaan isolasi sosial, hilangnya martabat diri, dan perasaan tidak dihargai oleh masyarakat. Selanjutnya tidak ada atau secara relatif sangat sedikit jumlahnya anak-anak sangat muda usia yang menjadi psikotis itu menunjukkan, bahwa penyebab disorder mental itu sebagian besar adalah faktor kultural dan faktor sosial.
3. Simponi psikotis banyak terdapat dikalangan anak remaja, puber dan adolesens, serta orang-orang pada usia klimakterium. Hal ini membuktikan , bahwa pada usia-usia kritis dan umur tua, pribadi mudah terganggu, jiwanya, dan rapuh, gampang patah mental oleh tekanan-tekanan eksternal. Dengan begitu ada sebab-sebab sosiologis, kultural dan sosial dari penyakit mental pada periode “the old age of youth/adolecens and the youth of old age/climacterium” (usia lanjut pada remaja dan adolens, dan usai remaja pada masa tua dan klimakterium).
4. Di kalangan dinas militer. Ada perasaan tidak/belum bisa menyesuaikan diri dalam kelompok baru dengan pendisiplinan yang kuat dan suasana yang otoriter. Timbul kemudian kepatahan komunikasi, penuh rasa ketakutan, rasa bersalah, dan rasa-rasa inferior atau rendah diri.
5. Orang-orang dengan status ekonomi rendah dan mata pencaharian sangat minim, namun mempunyai tuntutan sosial dan ambisi materiil tinggi.
6. Dikalangan gelandangan dan migran dari desa-desa yang pindah ke kota-kota, yang tidak bisa menyusuaikan diri terhadap tuntutan sosial baru. Mereka tidak mempunyai pendidikan cukup dan ketrampilan teknis, sehingga kalah bersaing di pasaran kerja.
7. Lebih banyak jumlah wanita yang dirawat di rumah-rumah sakit jiwa. Ibu-ibu rumah tangga lebih banyak yang menderita psikosomatisme daripada pria. Sedang kaum pria cendrung memupuk delusion of greunduer daripada wanita.
8. Keadaan rumah tangga yang berantakan, broken home, dan di kalangan keluarga radikal (family radicalism) banyak peristiwa mental disorder. Juga di kalangan gerombolan-gerombolan yang sangat ekstrem dan amat fanatik (Mafia, Brigade Merah, Brigade Pemusnahan, dan lain-lain).
9. Diperkirakan lebih kurang 40% dari orang-orang yang tidak beragama menderita kekalutan mental.
10. Juga orang-orang yang super ekstrem dan sangat ortodok serta fanatik terhadap doktrin-doktrin agama dan ide-ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan, banyak sekali yang menderita kekalutan mental.

Dengan tegas dapat dinyatakan, bahwa banyaknya penderita mental disorder itu merupakan refleksi dari pola-pola konfliktius yang banyak terdapat dalam masyarakat modern, dan menjadi salah satu epifenomenon (gejala tambahan) dari modernitas.
Patut diingat, bahwa gangguan mental oleh faktor-faktor sosial dan kultural yang eksternal sifatnya itu bisa dihindari, yaitu dengan jalan sebagai berikut:
1. Selalu memelihara kebersihan jiwa, karena bertingkah laku susila.
2. Tidak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak banyak konflik dengan lingkungan.
3. Menegakkan disiplin diri yang ketat.
4. Berusaha berpikir dan berbuat wajar, tanpa penggunaan mekanisme pelarian-diri dan mekanisme pertahanan diri yang negatif.
5. Berani menghadapi kesulitan dengan nyata, dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkret; tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.
Bila dilihat dari kontekstualisasi ajaran Islam, maka terbentanglah jawaban Islam untuk menghadapi dan mengantisipasi modernisasi yang tengah melanda masyarakat modern, yang tengah mengalami penyakit mental disorder tersebut dengan melakukan perubahan serta optimisme dengan cara atau metoda dan strategi dakwah “bil hikmah wal mau’izhatil hasanah, wajadilhum billati hia ahsan”, antara lain:

1. Melakukan Perubahan Secara Totalitas dan Antusiasme; Surat Ar-Ra’du (13): 11

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

2. Sampaikan berita gembira dan peringatan pada orang-orang Mukmin; Surat Al-Ahzab (33): 47.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah”

3. Nabi Muhammad SAW diutus untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan peringatan; Surat Al-Ahzab (33): 45.


“Hai nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan.”

4. Jangan berputus asa dari Rahmat Allah; Surat Yusuf (12): 87.

5. “Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

6. Hanya orang yang sesat yang berputus asa dari Rahmat Allah; Surat Al-Hijr (15): 56.

“Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang- orang yang sesat".

7. Jangan Putus Asa dan Jangan Bersedih; Surat Ali-Imran (3): 139.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

8. Jangan Melampaui batas; Surat Az-Zumar (39): 53.

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

9. Jangan Berbuat Syirik; Surat An Nisa (4) 48.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.”

10. Semua Manusia Berkumpul di Padang Mahsyar Mempertanggungjawabkan Amal Perbuatannya Saat di Dunia; Surat Ibrahim (14): 21-22 :



“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri".“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya, sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukanku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih”.

Demikian permaslahan hoax itu kita sikapi dengan jiwa yang tenag, sabar dan melakukan reaktualisasi ajaran Islam dengan tidak hanya menjadi penonton, akan tetapi untuk turun gunung, melakukan action plan (perencanaa aksi) dakwah dengan strategi dakwah yang sesuai denagn perkembangan ilmu dan teknologi informasi, terutama mengantisipasi arus perubahan pola pikir dan pola tindakan masyarakat modern saat ini. Sangatlah dibutuhkan penguasaan teknologi komunikasi dan informasi, untuk paling tidak dapat memberikan dakwah kondusif dan dakwah kumunikatif persuasi bagi umat, melalui media sosial yang jujur, transparan dan ikhlas dalam menyampaikan dakwah Islam, sebagai pelanjut estafeta perjuangan risalah Rasulullah Muhammad SAW sampai pada titik darah penghabisan. Dengan segenap kekuatan sumber daya umat dan sumber daya finansial, ayo kita di jalan dakwah. Fastabiqul khairat. (IM-SN)

Sumber Referensi:

1. Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Jakarta: Pustaka Firdaus, Th.2001.
2. Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jakarta: Rajawali Pers, Th. 2011.
3. Koran SINDO, Senin, 20 Februari 2017.
4. Koran SINDO, Senin, 27 Februari 2017.








Rabu, 11 Januari 2017

Libur Kuliah Saatnya Berbaur dan Berbagi ILmu Kepada Masyarakat Luas



Waktu terus berlalu teramat disayangkan, jika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan setepat mungkin. Seperti melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, yang bisa membuat dan membangun diri kita menjadi lebih baik.

Terlebih lagi jika profesi utama kita sebagai mahasiswa. Saat di waktu perkuliahan kita banyak belajar, dengan banyak mendengar, banyak melihat, serta banyak merasakan. Apa saja yang dijelaskan oleh para dosen saat mengajar itulah momen yang paling “berharga”.

Momen yang bisa kita jadikan sebagai sarana untuk studi banding, tempat bertanya, tempat berkonsultasi, serta berbagai macam fungsi lainnya untuk kita bisa mendapatkan berbagai penjelasan dari ilmu yang telah, sedang dan hendak kita pelajari.

Waktu efektif perkuliahan di tiap semester biasanya berlangsung hanya empat bulan saja. Selanjutnya dua bulan yang tersisa untuk liburan kuliah. Nah, di saat liburan inilah mahasiswa sebaiknya bergerak produktif bisa dengan bekerja atau berdagang untuk bisa mendapatkan keuntungan yang bisa digunakan untuk kebutuhan semester selanjutnya. Bahkan alangkah lebih baiknya lagi jika para mahasiswa mempraktikkan ilmu dan pengalaman yang di dapatkannya saat di waktu perkuliahan.

Bisa dengan cara berbaur dan berbagi kepada segenap lapisan masyarakat. Kegiatan berbaur dan berbagi ilmu dan pengalaman bisa juga kita dimulai dari ruang lingkup terkecil, yakni dari ruang lingkup keluarga. Dari keluarga kita bisa berbagi ilmu & pengalaman kepada orang tua, adik maupun kakak kita.

Misal, dari mata kuliah tentang “keagamaan” kita bisa berbagi berbagai teori-teori sekaligus metode/ cara mempraktikkan nilai-nilai kegamaan. Bagaimana seharusnya menjadi pribadi yang baik, dari waktu ke waktu, dari kesempatan ke kesempatan yang kita miliki.

Untuk ilmu lainnya misal ilmu sosial, bagaimana seharusnya kita bisa menempatkan diri kita menjadi makhluk sosial, yakni makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Ini bermakna kita harus bisa menjalin kehidupan ini dengan kebersamaan sesama manusia. Namun adanya kalanya kita juga harus bisa menjadi pribadi yang mandiri. Dengan begitu kita bisa menempatkan diri kita di saat bersama maupun di saat sendiri, kita senantiasa bisa menjalani kehidupan ini dengan sebagai mana mestinya.

Atau bisa juga kita membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun. Misal, membuat kegiatan pelatihan untuk membuka dan membangun usaha kecil menengah (UKM), kegiatan pelatihan komputer, kegiatan pelatihan bahasa, pelatihan memahami teori dan cara praktik berdakwah, pelatihan cara/ metode mengajar anak didik, maupun berbagai macam pelatihan lainnya yang bisa kita buat dan kita jalankan.

Pembelajaran kepada masyarakat bagi mahasiswa, berbeda dengan metode pembelajaran santri kepada masyarakat. Para santri sebelum memasuki libur sekolah dibekali dahulu oleh kepala sekolah dan guru-guru. Beda halnya dengan mahasiswa yang tidak dibekali oleh rektor maupun para dosen, mahasiswa dituntut kesadaran dirinya untuk secara “otomatis” untuk bisa memanfaatkan waktu yang ada “liburan” dengan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Ada sebuah hadist yang akan senantiasa menjadi pengingat bagi kita sebagai kalangan akademisi, untuk senantiasa memahami dengan seutuhnya akan makna dari ilmu, yakni ILMU TANPA AMAL SAMA DENGAN POHON TIADA BUAHNYA.

Ilmu bagaikan air, semakin sering diraih dan semakin sering diberikan ilmu kita kepada orang lain maka akan semakin jernih air yang kita miliki. Sekali lagi sayang amat disayangkan jika kita sebagai mahasiswa hanya sebatas menjadi mahasiswa/i KUPU-KUPU, yang hanya kerjanya “kuliah pulang dan kuliah pulang” saja, alias tiada kegiatan produktif yang kita ikuti di intern kampus terlebih lagi kegiatan di ekstern kampus.

Dengan kita menciptakan berbagai kegiatan-kegiatan produktif bagi masyarakat. Secara tak langsung membuat nama kampus menjadi baik dan lebih baik lagi di mata keluarga, masyarakat bahkan di skup penilaian kenegaraan.

Sedikit jika kita membuka kembali lembaran yang pernah kita pelajari dahulu, pada saat masa orientasi kemahasiswaan berlangsung di masa pra kuliah. Adanya tri dharma yang bermakna tiga kewajiban, yang harus dilaksanakan bagi para mahasiswa/i.

Berikut isi dari tri dharma

1. Pendidikan dan pengajaran
2. Penelitian dan pengembangan.
3. Pengabdian kepada masyarakat.

Makna dari kewajiban itu sendiri ialah sesuatu yang harus dilaksanakan. Jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa, menurut kacamata agama. Sebagai mahasiswa yang berkuliah di Institut Agama Islam, kita sepatutnya mengamalkan tri dharma.

Mari kerahkan daya fikir kita, daya imajinasi kita, daya kreatifitas kita, kehendak hati kita untuk senantiasa melangkah mewujudkan tri dharma. Dari ketiga poin tersebut poin ketiga yang paling esensial.

Sebaik-baik manusia ialah manusia yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, namun juga bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang tak hanya sebatas bermanfaat bagi orang banyak, namun juga dapat menciptakan karya nyata yang bermanfaat bagi orang banyak.

Mari kita jadikan tri dharma sebagai kesadaran dan budaya nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Yang tak hanya saat di dalam kampus saja kita pelajari dan kita praktikkan, tapi juga ke dalam kehidupan nyata untuk bisa kita berbaur dan berbagi ilmu dan pengalaman yang kita raih bagi masyarakat dan negara kita tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.